Jumat, 03 April 2020

BERSYUKUR




Saya kira, waktunya yang berjalan begitu cepat. Tenyata, sayanya saja yang berjalan terlalu lambat.

Terlalu banyak perjalanan yang berakhir tidak sesuai dengan apa yang telah direncanakan. Dan pada akhirnya, waktu serta kesempatan memang benar-benar tidak dapat diputar, dijilat, apalagi dicelupin.

Ketika nasi sudah menjadi bubur, tetaplah percaya bahwa Tuhan telah menyiapkan suwiran ayam goreng, sate telor, sate ati ampela, kerupuk udang, lengkap dengan taburan bawang goreng di waktu yang tidak terduga.

#PohonYangBerdiriSendiri
#AdalahPohonYangIstimewa
#SelamatDatangBulanApril

Diposting ketika masa WFH (Work Frome Home) sebagai dampak dari Covid-19
Diposting di Instagram, 1 April 2020



KLINIK KOPI




Mungkin disebut klinik karena setiap pengunjung dikasih nomor antrian sebelum dapat menikmati kopinya. Ketika tiba giliran, pengunjung bisa konsultasi mau kopi yang seperti apa. Kopi yang pahit ada manisnya meski tanpa gula, kopi yang pahit ada sedikit asam dan sedikit manisnya, ya begitulah pokoknya (semuanya light roasted). Selama Mas Pepeng meracik kopi, pengunjung bebas ngobrol sepuasnya. Kalau secangkir kopi kita udah selesai diracik, itu artinya giliran pengunjung dengan nomor antrian selanjutnya yang berkesempatan ngobrol sama Mas Pepeng.

Yang patut diapresiasi dari warung kopi ini adalah adanya ruang pemisah antara perokok dan yang bukan perokok. Kalau perokok duduknya di halaman depan di bawah pepohonan, kalau yang bukan perokok duduknya lesehan di teras ga jauh dari Mas Pepeng meracik kopi. Tempatnya sederhana dan nyaman meski tanpa wifi, ada beberapa pohon buah di halaman depan, dan ada beberapa tanaman stroberi yang digantung di dinding-dinding dekat kolam ikan. Bangunan ini dirancang oleh Mas Yu Sing dari Studio Akanoma. Simple tapi past tense.

#InspirasiRumah
#RumahIdaman

Diposting ketika menikmati secangkir kopi di teras Klinik Kopi
Diposting di Instagram, 15 Juli 2017

CATATAN MASA KECIL





Jauh sebelum rumah sakit tempat emak kerja kebakaran, jauh sebelum rumah hancur karena gempa bumi. Intinya setelah beberapa kali pindah rumah, tempat ini yang paling diingat.

Diikat kain,
Kalau keliling naik motor berdua bareng papa terlebih untuk jarak yang jauh, sering diikat kain dipinggang karena passion gua waktu itu tidur di motor.

Mungkin Attacus Atlas,
Karena penasaran sama daun putri malu, kadang-kadang kalau udah waktunya jam pulang sekolah gua sering ke kebun belakang TK cuma sekedar nyentuh daun putri malu, dan waktu itu pernah ga sengaja liat kupu-kupu warna cokelat yang ukurannya 3, 4, atau mungkin berkali-kali lipat lebih besar dari kupu-kupu biasanya.

Pelepah,
Kalau pulang sekolah dan nemu pelepah pinang kering yang jatuh di sepanjang jalan menuju rumah, biasanya langsung duduk di pelepah pinang lalu ditarik sama temen SD secara bergantian. Mungkin itu yang bikin gua kurus sejak kecil.

Matoa,
Dulu waktu nyari ranting pohon yang berbentuk huruf Y buat bikin ketapel, ga sengaja ketemu pohon tinggi berdaun lebat yang daging buahnya mirip rambutan. Matoa, buah terenak setelah durian, pisang, dan melon. Ya mungkin begitulah.

Kakao,
Setiap weekend biasanya anak-anak seRT main kasti/bola/gatrik/petak umpet di lapangan, pulangnya biasanya makan buah kakao di kebun orang. Pernah suatu ketika kita dikejar petani kakao pake clurit, mungkin dia sudah muak dengan kebiasan kita.

Der Panzer,
Ketika nonton tv dan dapet kabar gantung sepatu dari Michael Ballack disusul Miroslav Klose, seketika langsung inget tempat ini. Karena itu baju favorit gua kalau main bola disini.

Batman,
Dulu pernah nyebur ke sungai karena gua yakin kalau pake baju batman itu bisa terbang, dan untung ditolong tukang bangunan yang lagi bikin pondasi pinggiran sungai.

Wortel,
Sayur yang paling ga gua suka, tapi waktu mama pulang ke rumah bawa bakwan yang isinya banyak wortel dan kol, dan ternyata itu enak. Akhirnya mulut gua terbiasa sama enaknya wortel dan ini jadi salah satu sayur favorit kalau naik gunung.

Pengen ngobrol sama temen kecil tapi ga ingat sama sekali nama mereka. Semoga semua bahagia dengan kehidupan masing-masing. Terima kasih kenangan, masa kecil saya menyenangkan.

#TKAisyiyah #Angkatan2000 #MencariKawanLama #BermodalkanFotoLawas #Generasi90an




Di posting ketika berteduh dari hujan di TK Aisyiyah, Argamakmur, Bengkulu Utara
Postingan instagram, 16 Juli 2017

CATATAN GUNUNG LEMBU



Temanya mungkin; Mencari Tempat untuk Menceritakan Kegundahan Satu Sama Lain.

Perjalanan kali ini dilakukan bersama dua orang teman sekampus (dulu) yang mempunyai hobi sama.

Lebih spesifiknya,
Ipang, teman blusukan berburu jajanan sewaktu mahasiswa dulu. Mungkin karena lidah kita setipe, sepakat kalau Es Puter dan Soto Mie di Pasar Wage adalah menu favorit. Ya mungkin begitulah.

Aldi, teman yang pernah ngamen bareng di Alun-Alun Purwokerto. Waktu itu gua lupa lirik dan Aldi lupa kunci, dapetnya ga seberapa tapi malunya luar biasa. Apalagi kalau abis nyanyi dikasihnya sebatang rokok, ibaratnya tuh seperti meletakkan orang-orangan sawah di tengah lautan, sia-sia. Alasannya; pertama gua bukan perokok. Kedua, gua lagi butuh duit biar bisa menikmati nasi kucing di Angkringan Jalan Kampus atau ga nasi telor orak-arik di Burjo Mang Kadar. Tapi tetap bersyukur, karena dengan begitu Aldi tidak lagi me-depresiasi-kan rokok teman kosnya untuk beberapa waktu.

Mungkin kualifikasi destinasi kali ini adalah tidak perlu yang terlalu jauh yang penting bisa camping sambil dengerin payung teduh, tidak perlu gunung yang tinggi yang penting bisa ngobrol sambil ngopi-ngopi.

Di cerita kali ini gua terharu sekaligus bangga, mereka berdua akur. Tidak lagi ribut dan memperdebatkan cara memasak telor seperti di Gunung Sindoro dulu. *aduh gua ngakak kalo inget ini wkwkwk*

Hidup itu mengalir seperti darah segar yang keluar dari pelipis McGregor sesaat setelah ditinju Mayweather. Walaupun ketenangan belasan jam ga akan bisa dibekukan untuk selamanya, sing penting hatur nuhun pisan sudah meluangkan waktunya.


Diposting ketika malam hari di dalam tenda.
Diposting di Instagram, 17 September 2017

Rabu, 30 Januari 2019

FILOSOFI LAGU UNTUK PEREMPUAN YANG SEDANG DALAM PELUKAN

Semua lagu itu enak asalkan sesuai mood. Bagi gua, band lokal yang enak menemani ketika ngetik, bersih-bersih rumah, bikin prakarya, atau apalah itu, lagi galau, dan juga enak ditonton konsernya bareng-bareng sama teman-teman mungkin Sheila On 7 dan Naif.

Kalau posisi lagi ngopi di warkop pinggir jalan, atau ngopi di terminal/stasiun, belanja di pasar tradisional, atau lagi nongkrong di pos ronda sama bapak-bapak, yang enak didengar mungkin lagunya Rhoma Irama, Panbers, Ratih Purwasih, D'lloyd, Koes Plus, & lagu lawas lainnya.

Tapi kalau lagi menyepi, lagu yang pas buat nemenin ngopi/ngeteh mungkin seperti Payung Teduh, Mocca, White Shoes & The Couples Company, Angsa & Serigala, Fourtwnty, Banda Neira, dsb.

Beberapa tahun terakhir, kalau lagi sendiri paling sering mengulang lagu 'Untuk Perempuan Yang Sedang Dalam Pelukan-nya Payung Teduh', dibikin penasaran dan bertanya-tanya, "Apa sih sebenarnya makna dari lirik lagu ini ? Untuk siapa lagu ini diciptakan ? Untuk ibunya ? Istrinya ? Dan/atau anaknya ?"

"Apakah seperti lagu Don't Look Back In Anger-nya Oasis ? Seperti apa yang telah dikatakan oleh Noel Callagher bahwa tiap liriknya tidak berkaitan satu sama lain, dan beberapa dibuat tak ada makna, walaupun demikian, tetap diminati banyak orang, terbukti ketika single ini liris pada 19 Februari 1996 langsung berhasil menduduki peringkat pertama 'The 50 Most Explosive Choruses by NME' dan menjadi hymne solidaritas anti teror kota Manchester dan London beberapa waktu lalu.

"Apakah seperti lagu You Make My World So Colorful-nya Daniel Sahuleka ? Yang menjelaskan kebahagiaan di tiap baitnya, terinspirasi ketika dia melihat cahaya mentari pagi yang menyinari wajah Alice, istrinya ('Morning sunshine in our room')."

"Atau, apakah seperti lagu Tears in Heaven-nya Eric Clapton ? Yang menjelaskan kesedihan sebab telah kehilangan anaknya yang saat itu berusia 4 tahun terjatuh dari jendela lantai 53 Apartemen New York City pada 20 Maret 1991."

Dibikin penasaran, multitafsir, huft, tidak seperti In My Life-nya The Beatles atau My Way-nya Frank Sinatra yang menjelaskan makna lagunya dari umum ke khusus.

Akhirnya rasa penasaran gua hilang ketika...
#Bersambung #PTPart1

Bagian 1 (Postingan Instagram (teddygnwnn) - 10 Desember 2017)





#PTPart2 Akhirnya rasa penasaran gua hilang ketika menyaksikan wawancara Mas Is di salah satu televisi swasta. Katanya, lagu ini adalah lagu yang paling lama proses penciptaannya. Awalnya lagu ini berjudul layangan yang terinspirasi ketika Mas Is melihat Raihan, keponakannya di Jepang.

“Pertama kali liat tuh anak ga tau kenapa gua selalu mengingat masa kecil gua kalau lagi main layangan. Seneng aja main di tanah yang lapang, maksudnya, gambaran membucahnya kegembiraan tanpa ada pemikiran apapun. Jadi lu menikmati waktu, lu menikmati segala hal dengan cara yang sangat sederhana”

Lagu ini belum selesai dibuat sampai suatu hari Mas Is mendapatkan pekerjaan, hanya menjadi intro saja. Momentum lirik per lirik lagu ‘Untuk Perempuan Yang Sedang Dalam Pelukan’ didapat ketika Mas Is pulang kerja, naik metromini-kereta di awal-awal kerja. Saat itu sedang sakit kepala, muntah, dan masuk angin. Lalu Mas Is dipijat oleh Agnes, istrinya, dalam keadaan belum sempat mandi sampai akhirnya ketiduran.

“Gua ga sempat basa-basi, ga sempet ngobrol beneran sama dia (Agnes), biasanya gua abis pulang kantor makan bareng. Kalo lagi masak makan bareng langsung atau engga nyari sate deket rumah atau gulai, tapi waktu itu ga sempet, gua ketiduran. Kebangun jam 3 kurang, setengah 3 lewatanlah. Gimana sih kalo lu kebangun dari tidur yang sangat lelap gitu gara-gara tumbang ? Perasaan gua tadi baru pulang kantor tiba-tiba kok jam segini”

Kemudian Mas Is ke kamar mandi untuk buang air kecil dan sekadar cuci muka, lalu kembali ke tempat tidur dan melihat istri serta anaknya yang sedang tertidur pulas di kamar kecil itu, di kontrakannya, di daerah Margonda. Ketika melihat situasi itu, langsung terbesit kata-kata ‘Hanya ada sedikit bintang malam ini, mungkin karena kau sedang cantik-cantiknya’.

Selanjutnya Mas Is keluar, duduk di teras sambil memainkan gitar, dan lagu itupun jadi dalam kurun waktu kurang dari satu jam.

“Mereka adalah teman yang Diutus Allah untuk menemani saya setiap hari, yang ketika lu ngeliatin sesuatu ngebuat tiba-tiba hati kita tenang, ketika ngeliatin sesuatu tiba-tiba hati kita tergugah untuk bisa lebih tekun lagi. Itu yang saya rasakan”

Lirik yang selanjutnya adalah ‘Di malam hari menuju pagi’, yang menggambarkan suasana saat itu.

Kemudian ‘Sedikit cemas banyak rindunya’, artinya kecemasan Mas Is akan kesulitan saat itu. “Besok saya bisa ngasih apa untuk mereka ? karena memang sangat susah saat itu, untuk bertahan, untuk hidup rasanya susah sekali”

“Proses yang saya jalani sama dia (Agnes) terbilang sangat mudah, apalagi setelah kehadiran Jingga, untuk perempuan yang sedang dalam pelukan kami itu, semua waktu kayaknya menjadi ringan untuk dijalani”

#SelamatUlangTahun
#MohammadIstiqamahDjamad
#SalahSatuTokohInspirasi
#GuaYakinSuatuSaatBakalanAdaBuku
#EntahItuBiografiFilosofiDanAtauSebagainya
#TerimaKasihPayungTeduh



Bagian 2 (Postingan Instagram (teddygnwnn) - 24 Januari 2018)

Kamis, 15 November 2018

EKSPEDISI TOGA DI PUCUK DEWI ANJANI (PERJALANAN GUNUNG RINJANI TAHUN 2016)


      Setelah lulus kuliah, baru hari ini saya sempat ngeblog lagi. Ini adalah cerita saya semasa sesaat setelah wisuda dulu. Perjalanan keliling Lombok dengan tujuan utama Gunung Rinjani. Saya ingin berbagi cerita tentang perjalanan saya yang dimulai dari kota rantau tercinta, Purwokerto.







COMING SOON!!!








        Ini foto saya di puncak Gunung Rinjani dengan ketinggian 3.726 mdpl, difotoin oleh Vilis Brukas, Pendaki Asal Lithuania.






Ini file yang saya ulpoad dalam bentuk pdf
https://drive.google.com/file/d/1F54-kNlvT3MJ4-TfeR8Hq9ts1UlxwUxf/view

Sabtu, 12 Desember 2015

TOGA DI PUCUK DEWI ANJANI



By: Muhammad Teddy Gunawan 

              Purwokerto, 13 Februari 2003


            Rara……
Sirna sudah anganku untuk meminangmu
Ku kira, semesta akan melapangkan jalanku dan menguatkan hatimu
Tapi ? Ah sudahlah….
            Andai waktu dapat diputar, andai waktu dapat dibekukan
            Aku pasti akan membekukan sedetik bersamamu untuk selamanya
            Namun, hidup ini cair…
Kini….
Kau telah bahagia dengan pengusaha kebun sawit itu
Sedangkan diriku, masih bergelut dengan tumpukan revisi
Dua tahun sudah aku tersakiti oleh sistem pendidikan ini
Entah karena sistemkah atau memang akulah yang bodoh
Janjiku tuk melamarmu di hari ini pupus sudah….
Berbahagialah, mimpimu menikah muda tercapai sudah

Kutarik napasku dalam-dalam, lalu kukeluarkan secara perlahan. Aku terdiam. Aku hanya bisa menelan ludah. Keningku mengkerut, air mataku jatuh tak terbendung membasahi secarik kertas ini. Ini adalah surat yang ditulis oleh sahabatku sendiri, Bram.
Aku tak tahu sehancur apa rasanya. Kekasih yang selalu menemaninya sedari duduk di bangku putih abu dulu, kini telah bahagia bersama lelaki asal Sumatera itu. Sebulan setelah putus dengan Rara, Bram semakin diruwetkan dengan undangan pernikahan yang dikirimkan Rara ke alamat kost Bram. Tak ayal kamar kostnya yang hanya berukuran 3 x 2,5 meter itu semakin berantakan dengan kertas-kertas skripsi yang bertebaran di setiap sudut kamar.
Aku tahu benar bagaimana Bram di kampus. Menurutku, Bram mahasiswa yang cerdas. Ia aktif di berbagai organisasi baik di dalam maupun di luar kampus. Kesibukannya tak mengganggu nilai kuliahnya sama sekali, bahkan, disaat aku masih bergelut dengan beberapa mata kuliah yang masih kuulang, Bram sudah selangkah lebih maju dengan kesibukannya bersama tugas akhir.
Semuanya sudah berlalu, sekarang aku sudah berdiri tegak mengenakan toga di puncak Gunung Rinjani ini, mimpiku semasa kuliah tercapai, tapi tidak untuk Bram. Padahal, ini adalah rencana yang aku buat bersama Bram semasa berpredikat sebagai mahasiswa baru dulu. Bram tersendat di penelitiannya. Katanya, dosen pembimbingnya seakan mempersulit dirinya untuk menyelesaikan strata sarjana. Entah karena masalah pribadi atau apapun itu, aku tak tahu.
Kutatap di sekelilingku. Ada bunga sandar nyawa yang menyejukkan mata. Ada dinding-dinding kaldera yang megah. Ada lautan awan yang menguning akibat pancaran sinar mentari. Ada pula Segara Anak yang begitu menakjubkan. Semuanya cukup menenangkanku, meski tak banyak. Namun, mataku hanya tertuju pada seonggok rerumputan liar di kiri kakiku. Rumput gunung itu seolah-olah ingin mengajakku bercengkrama. Halusinasiku memuncak.
“Apa yang kau tangisi kawan ?”
“Aku benar-benar merasa kehilangan sahabatku. Pikiranku mendadak kelam, aku tak tahu harus berbuat apa. Andaikan engkau merasakan apa yang aku rasakan saat ini,  kurasa warna hijaumu akan menguning dan membusuk di puncak ini”
“Sudahlah, hidup tak selamanya kekal kawan, meskipun dirimu dan dirinya seperti garis silang yang memberikan sesaat pertemuan lalu menghilang, setidaknya banyak pelajaran manis yang kau dapat darinya”
“Mudah memang jika hanya sekedar berucap….”
“Aku pernah sepertimu, sahabatku telah mati kering di puncak ini, terinjak kaki-kaki pendaki. Sama halnya dengan bunga sandar nyawa itu, hanya namanya saja bunga abadi, tapi tidak untuk raganya. Pendaki-pendaki egois memetiknya. Jangan terlalu berlarut dalam kesedihanmu kawan, ditinggalkan ataupun meninggalkan adalah siklus hidup yang sudah pasti terjadi”
            Embun di helai-helai daun rumput liar itu setetes demi setetes jatuh membasahi tanah. Seolah-olah ikut merasakan kesedihanku. Aku hanya bisa tersenyum kecil sembari mengepal kedua telapak tanganku, lalu kutempelkan di bawah dagu. Entah apa yang ada dibenakku, seolah-olah aku merasakan kalau rumput itu membalas semua curahanku. Ini gila!
            Waktu begitu cepat berlalu. Masih terngiang di kepalaku dengan kejadian dua minggu yang lalu, tepat satu semester setelah kelulusanku. Bram ditemukan sudah tak bernyawa di kamar kostnya. Kematian memang suatu hal yang wajar meski caranya yang tak wajar. Sungguh mengenaskan, lehernya terikat tambang kuning yang digantungkan di langit-langit kamar. Tubuhnya tergantung kaku dengan baju warna merah  yang ia kenakan. Di bagian depan bajunya disablon putih, bertuliskan “I’ll wait for your propose, Bram” dengan latar gambar siluet sepasang kekasih. Aku tahu betul, itu adalah baju pemberian Rara saat ulang tahunnya yang  ke 21. Aku tak pernah menyangka cinta benar-benar membutakan pikiran Bram.
            Tak ada gunanya lagi mengungkit bayangan kelam di masa lalu. Semua orang pasti mempunyai masalahnya masing-masing. Takdir memang di tangan Tuhan, tapi manusialah yang menentukan. Meski pendidikan bisa didapatkan dimanapun, selagi berpangkat sebagai mahasiwa, menyelesaikan akademis adalah suatu kewajiban yang harus dikerjakan. Setiap mahasiswa mempunyai versi terbaik untuk menyelesaikannya, meski tak sama. Tapi, apakah semua mahasiswa memiliki isi kepala yang sama ? Tentu tidak. Ya! Tidak semua orang mampu beradaptasi di bidang akademisnya dengan baik. Ah sudahlah….Aku hanya berharap semoga tidak ada Bram Bram yang lainnya.
            Toga di pucuk Dewi Anjani. Bram, ekspedisi kita telah usai, meski tak bersama, ekspedisi ini kupersembahkan untukmu. Surat yang tak sengaja kutemukan terselip di tas gunungku ini pasti akan kujaga selalu, Bram. Semoga surga menantimu.
*****