Jumat, 03 April 2020

CATATAN MASA KECIL





Jauh sebelum rumah sakit tempat emak kerja kebakaran, jauh sebelum rumah hancur karena gempa bumi. Intinya setelah beberapa kali pindah rumah, tempat ini yang paling diingat.

Diikat kain,
Kalau keliling naik motor berdua bareng papa terlebih untuk jarak yang jauh, sering diikat kain dipinggang karena passion gua waktu itu tidur di motor.

Mungkin Attacus Atlas,
Karena penasaran sama daun putri malu, kadang-kadang kalau udah waktunya jam pulang sekolah gua sering ke kebun belakang TK cuma sekedar nyentuh daun putri malu, dan waktu itu pernah ga sengaja liat kupu-kupu warna cokelat yang ukurannya 3, 4, atau mungkin berkali-kali lipat lebih besar dari kupu-kupu biasanya.

Pelepah,
Kalau pulang sekolah dan nemu pelepah pinang kering yang jatuh di sepanjang jalan menuju rumah, biasanya langsung duduk di pelepah pinang lalu ditarik sama temen SD secara bergantian. Mungkin itu yang bikin gua kurus sejak kecil.

Matoa,
Dulu waktu nyari ranting pohon yang berbentuk huruf Y buat bikin ketapel, ga sengaja ketemu pohon tinggi berdaun lebat yang daging buahnya mirip rambutan. Matoa, buah terenak setelah durian, pisang, dan melon. Ya mungkin begitulah.

Kakao,
Setiap weekend biasanya anak-anak seRT main kasti/bola/gatrik/petak umpet di lapangan, pulangnya biasanya makan buah kakao di kebun orang. Pernah suatu ketika kita dikejar petani kakao pake clurit, mungkin dia sudah muak dengan kebiasan kita.

Der Panzer,
Ketika nonton tv dan dapet kabar gantung sepatu dari Michael Ballack disusul Miroslav Klose, seketika langsung inget tempat ini. Karena itu baju favorit gua kalau main bola disini.

Batman,
Dulu pernah nyebur ke sungai karena gua yakin kalau pake baju batman itu bisa terbang, dan untung ditolong tukang bangunan yang lagi bikin pondasi pinggiran sungai.

Wortel,
Sayur yang paling ga gua suka, tapi waktu mama pulang ke rumah bawa bakwan yang isinya banyak wortel dan kol, dan ternyata itu enak. Akhirnya mulut gua terbiasa sama enaknya wortel dan ini jadi salah satu sayur favorit kalau naik gunung.

Pengen ngobrol sama temen kecil tapi ga ingat sama sekali nama mereka. Semoga semua bahagia dengan kehidupan masing-masing. Terima kasih kenangan, masa kecil saya menyenangkan.

#TKAisyiyah #Angkatan2000 #MencariKawanLama #BermodalkanFotoLawas #Generasi90an




Di posting ketika berteduh dari hujan di TK Aisyiyah, Argamakmur, Bengkulu Utara
Postingan instagram, 16 Juli 2017

CATATAN GUNUNG LEMBU



Temanya mungkin; Mencari Tempat untuk Menceritakan Kegundahan Satu Sama Lain.

Perjalanan kali ini dilakukan bersama dua orang teman sekampus (dulu) yang mempunyai hobi sama.

Lebih spesifiknya,
Ipang, teman blusukan berburu jajanan sewaktu mahasiswa dulu. Mungkin karena lidah kita setipe, sepakat kalau Es Puter dan Soto Mie di Pasar Wage adalah menu favorit. Ya mungkin begitulah.

Aldi, teman yang pernah ngamen bareng di Alun-Alun Purwokerto. Waktu itu gua lupa lirik dan Aldi lupa kunci, dapetnya ga seberapa tapi malunya luar biasa. Apalagi kalau abis nyanyi dikasihnya sebatang rokok, ibaratnya tuh seperti meletakkan orang-orangan sawah di tengah lautan, sia-sia. Alasannya; pertama gua bukan perokok. Kedua, gua lagi butuh duit biar bisa menikmati nasi kucing di Angkringan Jalan Kampus atau ga nasi telor orak-arik di Burjo Mang Kadar. Tapi tetap bersyukur, karena dengan begitu Aldi tidak lagi me-depresiasi-kan rokok teman kosnya untuk beberapa waktu.

Mungkin kualifikasi destinasi kali ini adalah tidak perlu yang terlalu jauh yang penting bisa camping sambil dengerin payung teduh, tidak perlu gunung yang tinggi yang penting bisa ngobrol sambil ngopi-ngopi.

Di cerita kali ini gua terharu sekaligus bangga, mereka berdua akur. Tidak lagi ribut dan memperdebatkan cara memasak telor seperti di Gunung Sindoro dulu. *aduh gua ngakak kalo inget ini wkwkwk*

Hidup itu mengalir seperti darah segar yang keluar dari pelipis McGregor sesaat setelah ditinju Mayweather. Walaupun ketenangan belasan jam ga akan bisa dibekukan untuk selamanya, sing penting hatur nuhun pisan sudah meluangkan waktunya.


Diposting ketika malam hari di dalam tenda.
Diposting di Instagram, 17 September 2017

Rabu, 30 Januari 2019

FILOSOFI LAGU UNTUK PEREMPUAN YANG SEDANG DALAM PELUKAN

Semua lagu itu enak asalkan sesuai mood. Bagi gua, band lokal yang enak menemani ketika ngetik, bersih-bersih rumah, bikin prakarya, atau apalah itu, lagi galau, dan juga enak ditonton konsernya bareng-bareng sama teman-teman mungkin Sheila On 7 dan Naif.

Kalau posisi lagi ngopi di warkop pinggir jalan, atau ngopi di terminal/stasiun, belanja di pasar tradisional, atau lagi nongkrong di pos ronda sama bapak-bapak, yang enak didengar mungkin lagunya Rhoma Irama, Panbers, Ratih Purwasih, D'lloyd, Koes Plus, & lagu lawas lainnya.

Tapi kalau lagi menyepi, lagu yang pas buat nemenin ngopi/ngeteh mungkin seperti Payung Teduh, Mocca, White Shoes & The Couples Company, Angsa & Serigala, Fourtwnty, Banda Neira, dsb.

Beberapa tahun terakhir, kalau lagi sendiri paling sering mengulang lagu 'Untuk Perempuan Yang Sedang Dalam Pelukan-nya Payung Teduh', dibikin penasaran dan bertanya-tanya, "Apa sih sebenarnya makna dari lirik lagu ini ? Untuk siapa lagu ini diciptakan ? Untuk ibunya ? Istrinya ? Dan/atau anaknya ?"

"Apakah seperti lagu Don't Look Back In Anger-nya Oasis ? Seperti apa yang telah dikatakan oleh Noel Callagher bahwa tiap liriknya tidak berkaitan satu sama lain, dan beberapa dibuat tak ada makna, walaupun demikian, tetap diminati banyak orang, terbukti ketika single ini liris pada 19 Februari 1996 langsung berhasil menduduki peringkat pertama 'The 50 Most Explosive Choruses by NME' dan menjadi hymne solidaritas anti teror kota Manchester dan London beberapa waktu lalu.

"Apakah seperti lagu You Make My World So Colorful-nya Daniel Sahuleka ? Yang menjelaskan kebahagiaan di tiap baitnya, terinspirasi ketika dia melihat cahaya mentari pagi yang menyinari wajah Alice, istrinya ('Morning sunshine in our room')."

"Atau, apakah seperti lagu Tears in Heaven-nya Eric Clapton ? Yang menjelaskan kesedihan sebab telah kehilangan anaknya yang saat itu berusia 4 tahun terjatuh dari jendela lantai 53 Apartemen New York City pada 20 Maret 1991."

Dibikin penasaran, multitafsir, huft, tidak seperti In My Life-nya The Beatles atau My Way-nya Frank Sinatra yang menjelaskan makna lagunya dari umum ke khusus.

Akhirnya rasa penasaran gua hilang ketika...
#Bersambung #PTPart1

Bagian 1 (Postingan Instagram (teddygnwnn) - 10 Desember 2017)





#PTPart2 Akhirnya rasa penasaran gua hilang ketika menyaksikan wawancara Mas Is di salah satu televisi swasta. Katanya, lagu ini adalah lagu yang paling lama proses penciptaannya. Awalnya lagu ini berjudul layangan yang terinspirasi ketika Mas Is melihat Raihan, keponakannya di Jepang.

“Pertama kali liat tuh anak ga tau kenapa gua selalu mengingat masa kecil gua kalau lagi main layangan. Seneng aja main di tanah yang lapang, maksudnya, gambaran membucahnya kegembiraan tanpa ada pemikiran apapun. Jadi lu menikmati waktu, lu menikmati segala hal dengan cara yang sangat sederhana”

Lagu ini belum selesai dibuat sampai suatu hari Mas Is mendapatkan pekerjaan, hanya menjadi intro saja. Momentum lirik per lirik lagu ‘Untuk Perempuan Yang Sedang Dalam Pelukan’ didapat ketika Mas Is pulang kerja, naik metromini-kereta di awal-awal kerja. Saat itu sedang sakit kepala, muntah, dan masuk angin. Lalu Mas Is dipijat oleh Agnes, istrinya, dalam keadaan belum sempat mandi sampai akhirnya ketiduran.

“Gua ga sempat basa-basi, ga sempet ngobrol beneran sama dia (Agnes), biasanya gua abis pulang kantor makan bareng. Kalo lagi masak makan bareng langsung atau engga nyari sate deket rumah atau gulai, tapi waktu itu ga sempet, gua ketiduran. Kebangun jam 3 kurang, setengah 3 lewatanlah. Gimana sih kalo lu kebangun dari tidur yang sangat lelap gitu gara-gara tumbang ? Perasaan gua tadi baru pulang kantor tiba-tiba kok jam segini”

Kemudian Mas Is ke kamar mandi untuk buang air kecil dan sekadar cuci muka, lalu kembali ke tempat tidur dan melihat istri serta anaknya yang sedang tertidur pulas di kamar kecil itu, di kontrakannya, di daerah Margonda. Ketika melihat situasi itu, langsung terbesit kata-kata ‘Hanya ada sedikit bintang malam ini, mungkin karena kau sedang cantik-cantiknya’.

Selanjutnya Mas Is keluar, duduk di teras sambil memainkan gitar, dan lagu itupun jadi dalam kurun waktu kurang dari satu jam.

“Mereka adalah teman yang Diutus Allah untuk menemani saya setiap hari, yang ketika lu ngeliatin sesuatu ngebuat tiba-tiba hati kita tenang, ketika ngeliatin sesuatu tiba-tiba hati kita tergugah untuk bisa lebih tekun lagi. Itu yang saya rasakan”

Lirik yang selanjutnya adalah ‘Di malam hari menuju pagi’, yang menggambarkan suasana saat itu.

Kemudian ‘Sedikit cemas banyak rindunya’, artinya kecemasan Mas Is akan kesulitan saat itu. “Besok saya bisa ngasih apa untuk mereka ? karena memang sangat susah saat itu, untuk bertahan, untuk hidup rasanya susah sekali”

“Proses yang saya jalani sama dia (Agnes) terbilang sangat mudah, apalagi setelah kehadiran Jingga, untuk perempuan yang sedang dalam pelukan kami itu, semua waktu kayaknya menjadi ringan untuk dijalani”

#SelamatUlangTahun
#MohammadIstiqamahDjamad
#SalahSatuTokohInspirasi
#GuaYakinSuatuSaatBakalanAdaBuku
#EntahItuBiografiFilosofiDanAtauSebagainya
#TerimaKasihPayungTeduh



Bagian 2 (Postingan Instagram (teddygnwnn) - 24 Januari 2018)

Kamis, 15 November 2018

EKSPEDISI TOGA DI PUCUK DEWI ANJANI (PERJALANAN GUNUNG RINJANI TAHUN 2016)


      Setelah lulus kuliah, baru hari ini saya sempat ngeblog lagi. Ini adalah cerita saya semasa sesaat setelah wisuda dulu. Perjalanan keliling Lombok dengan tujuan utama Gunung Rinjani. Saya ingin berbagi cerita tentang perjalanan saya yang dimulai dari kota rantau tercinta, Purwokerto.







COMING SOON!!!








        Ini foto saya di puncak Gunung Rinjani dengan ketinggian 3.726 mdpl, difotoin oleh Vilis Brukas, Pendaki Asal Lithuania.






Ini file yang saya ulpoad dalam bentuk pdf
https://drive.google.com/file/d/1F54-kNlvT3MJ4-TfeR8Hq9ts1UlxwUxf/view

Sabtu, 12 Desember 2015

TOGA DI PUCUK DEWI ANJANI



By: Muhammad Teddy Gunawan 

              Purwokerto, 13 Februari 2003


            Rara……
Sirna sudah anganku untuk meminangmu
Ku kira, semesta akan melapangkan jalanku dan menguatkan hatimu
Tapi ? Ah sudahlah….
            Andai waktu dapat diputar, andai waktu dapat dibekukan
            Aku pasti akan membekukan sedetik bersamamu untuk selamanya
            Namun, hidup ini cair…
Kini….
Kau telah bahagia dengan pengusaha kebun sawit itu
Sedangkan diriku, masih bergelut dengan tumpukan revisi
Dua tahun sudah aku tersakiti oleh sistem pendidikan ini
Entah karena sistemkah atau memang akulah yang bodoh
Janjiku tuk melamarmu di hari ini pupus sudah….
Berbahagialah, mimpimu menikah muda tercapai sudah

Kutarik napasku dalam-dalam, lalu kukeluarkan secara perlahan. Aku terdiam. Aku hanya bisa menelan ludah. Keningku mengkerut, air mataku jatuh tak terbendung membasahi secarik kertas ini. Ini adalah surat yang ditulis oleh sahabatku sendiri, Bram.
Aku tak tahu sehancur apa rasanya. Kekasih yang selalu menemaninya sedari duduk di bangku putih abu dulu, kini telah bahagia bersama lelaki asal Sumatera itu. Sebulan setelah putus dengan Rara, Bram semakin diruwetkan dengan undangan pernikahan yang dikirimkan Rara ke alamat kost Bram. Tak ayal kamar kostnya yang hanya berukuran 3 x 2,5 meter itu semakin berantakan dengan kertas-kertas skripsi yang bertebaran di setiap sudut kamar.
Aku tahu benar bagaimana Bram di kampus. Menurutku, Bram mahasiswa yang cerdas. Ia aktif di berbagai organisasi baik di dalam maupun di luar kampus. Kesibukannya tak mengganggu nilai kuliahnya sama sekali, bahkan, disaat aku masih bergelut dengan beberapa mata kuliah yang masih kuulang, Bram sudah selangkah lebih maju dengan kesibukannya bersama tugas akhir.
Semuanya sudah berlalu, sekarang aku sudah berdiri tegak mengenakan toga di puncak Gunung Rinjani ini, mimpiku semasa kuliah tercapai, tapi tidak untuk Bram. Padahal, ini adalah rencana yang aku buat bersama Bram semasa berpredikat sebagai mahasiswa baru dulu. Bram tersendat di penelitiannya. Katanya, dosen pembimbingnya seakan mempersulit dirinya untuk menyelesaikan strata sarjana. Entah karena masalah pribadi atau apapun itu, aku tak tahu.
Kutatap di sekelilingku. Ada bunga sandar nyawa yang menyejukkan mata. Ada dinding-dinding kaldera yang megah. Ada lautan awan yang menguning akibat pancaran sinar mentari. Ada pula Segara Anak yang begitu menakjubkan. Semuanya cukup menenangkanku, meski tak banyak. Namun, mataku hanya tertuju pada seonggok rerumputan liar di kiri kakiku. Rumput gunung itu seolah-olah ingin mengajakku bercengkrama. Halusinasiku memuncak.
“Apa yang kau tangisi kawan ?”
“Aku benar-benar merasa kehilangan sahabatku. Pikiranku mendadak kelam, aku tak tahu harus berbuat apa. Andaikan engkau merasakan apa yang aku rasakan saat ini,  kurasa warna hijaumu akan menguning dan membusuk di puncak ini”
“Sudahlah, hidup tak selamanya kekal kawan, meskipun dirimu dan dirinya seperti garis silang yang memberikan sesaat pertemuan lalu menghilang, setidaknya banyak pelajaran manis yang kau dapat darinya”
“Mudah memang jika hanya sekedar berucap….”
“Aku pernah sepertimu, sahabatku telah mati kering di puncak ini, terinjak kaki-kaki pendaki. Sama halnya dengan bunga sandar nyawa itu, hanya namanya saja bunga abadi, tapi tidak untuk raganya. Pendaki-pendaki egois memetiknya. Jangan terlalu berlarut dalam kesedihanmu kawan, ditinggalkan ataupun meninggalkan adalah siklus hidup yang sudah pasti terjadi”
            Embun di helai-helai daun rumput liar itu setetes demi setetes jatuh membasahi tanah. Seolah-olah ikut merasakan kesedihanku. Aku hanya bisa tersenyum kecil sembari mengepal kedua telapak tanganku, lalu kutempelkan di bawah dagu. Entah apa yang ada dibenakku, seolah-olah aku merasakan kalau rumput itu membalas semua curahanku. Ini gila!
            Waktu begitu cepat berlalu. Masih terngiang di kepalaku dengan kejadian dua minggu yang lalu, tepat satu semester setelah kelulusanku. Bram ditemukan sudah tak bernyawa di kamar kostnya. Kematian memang suatu hal yang wajar meski caranya yang tak wajar. Sungguh mengenaskan, lehernya terikat tambang kuning yang digantungkan di langit-langit kamar. Tubuhnya tergantung kaku dengan baju warna merah  yang ia kenakan. Di bagian depan bajunya disablon putih, bertuliskan “I’ll wait for your propose, Bram” dengan latar gambar siluet sepasang kekasih. Aku tahu betul, itu adalah baju pemberian Rara saat ulang tahunnya yang  ke 21. Aku tak pernah menyangka cinta benar-benar membutakan pikiran Bram.
            Tak ada gunanya lagi mengungkit bayangan kelam di masa lalu. Semua orang pasti mempunyai masalahnya masing-masing. Takdir memang di tangan Tuhan, tapi manusialah yang menentukan. Meski pendidikan bisa didapatkan dimanapun, selagi berpangkat sebagai mahasiwa, menyelesaikan akademis adalah suatu kewajiban yang harus dikerjakan. Setiap mahasiswa mempunyai versi terbaik untuk menyelesaikannya, meski tak sama. Tapi, apakah semua mahasiswa memiliki isi kepala yang sama ? Tentu tidak. Ya! Tidak semua orang mampu beradaptasi di bidang akademisnya dengan baik. Ah sudahlah….Aku hanya berharap semoga tidak ada Bram Bram yang lainnya.
            Toga di pucuk Dewi Anjani. Bram, ekspedisi kita telah usai, meski tak bersama, ekspedisi ini kupersembahkan untukmu. Surat yang tak sengaja kutemukan terselip di tas gunungku ini pasti akan kujaga selalu, Bram. Semoga surga menantimu.
*****


Senin, 25 Mei 2015

Catatan Akuntansi B 2012

     Catatan Akuntansi B 2012, mungkin kalimat yang tepat untuk menggambarkan kisah tentang gua dan mereka. Begitu banyak catatan perjalanan yang telah kami lalui, dimulai dari ospek hingga menginjak predikat sebagai mahasiswa tingkat 5. Sebenarnya sih ini adalah kisah tahun lalu, 29 November 2014 tapi ya baru sekarang sempat ngeblog lagi.

      Semuanya bermula saat gua dan Awang (teman sekelas) lagi nongkrong di basecamp AktB12. Ya begitulah, anak-anak kelas biasa menjadikan kamar gua sebagai basecamp untuk sekedar nonton, main pes ataupun istirahat. 

 "Wang kenapa kita ga buat sesuatu yang bisa bikin anak-anak kelas makin akrab lagi satu sama lain"
"Sama Ted, aku juga kepikiran kayak gitu, biar setelah lulus nanti silaturahmi kita tetep terjaga"
"Yaelah gaya bet, tapi emang bener banget wang, satu momen untuk selamanya. Mungkin acara bakar-bakaran ? Ke pantai ? Atau mungkin bikin makrab lagi aja tapi khusus kelas kita doang ?"
"Mungkin makrab kelas...."
"Bla...bla bla"

   Setelah berhari-hari ngebacot akhirnya kita sepakat untuk membuat acara malam keakraban. Gua tau, kalo cuma sekedar share tentang ide pasti respon anak-anak kelas ya cuma gitu-gitu aja, ibarat naro orang-orangan sawah di tengah lautan lepas, ga ada gunanya yang berujung wacana belaka hahaha *peace guys*. Gua dan Awang sepakat untuk berbagi tempat survey, gua survey villa yang ada di kawasan Baturraden dan Awang survey di sekitaran Purbalingga. Gua emang udah ngincer Villa Kebun Jambu-nya mas Tete yang pernah dijadiin tempat nongkrong-nongkrong unyu teman-teman perhimpunan gua, tapi sayang udah full booked untuk satu setengah bulan kedepan. Yaudah akhirnya gua, coba ke Villa yang pernah dijadiin tempat reuni akbar perhimpunan. Lagi lagi, gua harus angkat tangan, harganya bikin sesak napas!!!

      Keesokan harinya, gua saling share informasi dan dokumentasi dengan Awang. Ternyata Awang dapet satu rekomendasi. Hmmm leh uga.
      
       14 Oktober 2014, kita langsung start untuk survey pertama menuju Serang, Purbalingga. 

"Eh maaf bu saya mau liat-liat villanya bisa ? "
"Oh monggo silahkan mas, tapi paling cuma bisa lihat-lihat dari luar sama di garasi soale kuncinya hilang waktu dipinjam sama mahasiswa KKN"
"Waduhh, engga ada kunci cadangannya ya bu ? "
"Iya ada sama yang punya, saya disini cuma jaga mas. Kalo mau rumahnya ada disana bla.bla..bla.

     Gua dan Awang langsung tancap gas ke rumah yang dituju, lagi dan lagi ada hambatan.

"Maaf mas, bapaknya lagi keluar mungkin rada sorean pulang" 

     Sambil menunggu, gua dan Awang memutuskan untuk berhenti di warung kopi untuk sekedar ngemil gorengan dan istirahat.

"Bu kopinya dua, oh iya villa di sekitar sini bla...bla bla..", tanya Awang pada penjaga kedai kopi.

"Oh gini mas..bla..bla.."

     Gua ga terlalu menyimak apa aja yang merekan obrolin, gua sibuk melihat-lihat hasil jepretan villa tadi walaupun cuma di bagian luar dan garasi. 

"Mungkin besok lagi deh kita kesini wang, udah mendung juga nih ga bawa jas hujan"

       Di perjalanan menuju Purwokerto....
    
 "Wang kayaknya bensinnya mau abis deh"
"Engga Ted selow aja, ini cuma karbulatornya yang dingin, pengaruh suhu. Maklumlah cuaca disini emang dingin banget"
"Oke Wang"

Lalu, tiba-tiba mesin motor mendadak mati....

"Iya Ted bener, bensinnya habis"


     Kamipun mendorong motor sampai ke bensin eceran terdekat, dan sialnya hujan turun. Gua dan Awang terpaksa berteduh sambil memakan buah strawberry segar yang dijual oleh warga sekitar. 

  

        Sabtu, 18 Oktober 2014, Gua dan Awang kembali menuju Serang, Purbalingga. "Ini nih Ted  villa yang direkomendasiin sama si ibu-ibu warung kopi kemaren", ujarnya sambil membelokan stang motor ke arah kiri. Karena mas penjaga villanya sedang mencari rumput untuk pakan ternak, kamipun dihampiri oleh seorang wanita. Yapp istrinya, Awang pun memulai obrolan dengan bahasa jawa. Setelah dari sana gua langsung posting foto-foto hasil survey ke grup line kelas. Daaaan, responnya sungguh menggembirakan men!

       Jum'at, 24 Oktober setelah ujian mata kuliah kewirausahaan (kalo ga salah). Gua, Awang, Andry, Andrew dan Nuzul berangkat menuju villa untuk menemui si penjaga villa sekaligus melakukan negosiasi harga. Kami pun jum'atan di masjid yang letaknya tidak jauh dari villa. Setelah itu, kami bertemu dan melakukan kesepakatan harga dan tanggal.



"Nanti kalo mau bakar-bakaran, bisa diluar udah ada tempanya mas. Terus kalo mas-nya mau pesan kayu bakar bisa ke saya saja"


      8 November 2014, 3 hari kepulangan dari Semeru, gua terpaksa kembali lagi ke villa tersebut untuk meminta nomor handphone penjaga villa yang hilang biar ga ada miss koordinasi sewaktu pemberangkatan dll. Memang lagi sial, handphone gua ketinggalan di Ranukumbolo!!!


        Dua minggu sebelum hari H, gua sama Awang sibuk mencari nasi rames untuk makan siang dan membooking tempat makan sebagai acara penutup malam keakraban kelas.

     
        Seminggu sebelum keberangkatan kepala rasanya mau pecah, harus cari solusi untuk bikin SOP dan video dokumenter disaat foto-foto dan video yang udah disiapkan hilang bersama handphone di surganya gunung Semeru. Seminggu sebelum keberangkatan terpaksa deh gua minjem hp anak kelas buat ngerekam video seadanya dan nyari-nyari foto-foto lucu di berbagai sosial media.


SOP minimalis

        29 November 2014, hari yang ditungu-tunggupun tiba. Gua pun berbagi tugas, Awang stay di parkiran sekretariat FEB, gua ngambil LCD, Fahmi ngambil sound system, Heka ngambil alat bakar, Yully, Putri dkk ngambil Magicom dan dibantu anak kelas lainnya membawa berbagai macam barang termasuk bakiak kayu yang dibawa menggunakan pickup (Maaf yang belum kesebut). Setelah berkumpul semua, sekitar pukul 11.00 WIB keberangkatan dimulai. 


       Sesampainya di villa, kami langsung beres-beres, istirahat, solat, makan rames dan beberapa anak cewek sibuk mengupas jagung. 








       Menurut gua, sedewasa apapun seorang lelaki, ketika kumpul bareng sahabat-sahabatnya tetap aja kelakukannya seperti anak kecil.


     Sekitar pukul 15.00, sebenarnya kami membuat video harlem shake dan joget-joget lainnya biar dibilang kekinian aja sih, tapi sayangnya gua ga tau video itu ada di siapa. Hmmm yauwislah.

        


           Sehabis maghrib, selepas solat berjamaah kami memulai acara pertama. Yap! bakar ayam, sosis, dan bakso. Kentir temen kiyeh, kencot meeen!





Ini kelakuan ketua HMJA kita nih wakakak


Tebak ini siapa ? Annabelle ? Bukaaan woy!


      Lihat! serasa di posko pengungsian ya, tapi gua seneng banget dengan suasana kebersamaannya men!!!!


         Sehabis acara makan malam, selanjutnya ada video dokumenter  Catatan Akuntansi B 2012  (silahkan klik linknya kalo mau nonton) dan acara tukar kado.




 

Walaupun udah dibikin peraturan range kado dari Rp. 5000 - Rp 10.000 tapi tetap aja ada yang ngasih lebih dari itu, yang penting ikhlas yeee.


      Setelah acara tukar kado seharusnya sih pada tidur, tapi anak-anak pada mau nonton film dan lo harus tau film yang kita tonton adalah "Orphan". Setelah nonton, kelompok dibagi menjadi 2. Anak cewek tidur di lantai atas dan anak cowok di lantai bawah sekaligus "ronda". Ada yang main PES, ada yang main kartu dan ada yang pura-pura tidur lalu buang gas belerang seperti foto dibawah ini. Walaupun udah disediain kamar, tetap aja tidur diluar jadi pilihan yang menyenangkan.




     Pagi hari, niatnya sih mau main bakiak di halaman villa tapi pagi itu hujan deras. Terpaksa deh diem di dalem sambil sarapan. Setelah hujan reda, kami foto-foto diluar villa. Ada yang ke kebun strawberry, ada juga yang foto dengan view gunung Slamet. Kebetulan puncaknya sedang tidak ada kabut.






     Pukul 11.00 WIB kamipun melakukan keberangkatan untuk kembali ke Purwokerto, sekaligus makan bersama sebagai bentuk acara penutupan malam keakraban di salah satu rumah makan di Purbalingga.



 

Ini kisah yang gua sebut  "Catatan Akuntansi B 2012"
      Terima kasih Akuntansi B 2012, kalian luar biasa. 




Sekali lagi terima kasih buat yang ngiket gua di tiang listrik bertuliskan "sedot wc" dan ngajak main perang mengkudu. Kalian emang kampret! (tap video)



     Gua sadar, gua disini merantau, dan disini pula gua belajar banyak pengalaman dari kalian. Gua ga bakalan pernah lupa sama kota satria ini. Masih ada waktu sih sebenarnya untuk saling memberikan hiburan dan liburan terbaik untuk teman kelas sebelum KKN dimulai dan menjadi pejuang skripsi. Semoga rencana selanjutnya masih bisa terealisasikan. Love You Full AktB12 #AktB12LuarBiasa #AktB12Solid
      

Minggu, 09 November 2014

PESONA DATARAN TINGGI DIENG

    Indonesia tak pernah kehabisan obyek wisata yang selalu memberikan pesona berbagai keindahan, baik alamnya maupun kebudayaannya. Salah satu dari berbagai obyek wisata yang patut dikunjungi yakni, Dataran Tinggi Dieng. Dieng merupakan desa tertinggi Pulau Jawa. Letaknya tepat di sebelah barat gunung Sindoro dan gunung Sumbing. Beberapa obyek wisata menarik bisa anda jumpai di Negeri Para Dewa ini, berikut beberapa diantaranya:

  • Candi Arjuna dan Museum Kaliasa -  Kedamaian dan Kemagisan Istana Siwa Berkepala Tiga




  • Telaga Warna - Serupa Namun Tak Sama





  •   Kawah Sikidang - Kawah Vulkanik Yang Selalu Berbisik



  •  Bukit Sikunir -  Keindahan Panorama Semesta dan Bola Cahaya Yang Sempurna





5. Dieng Plateu -  Sejarah, Legenda dan Asal Usul Menjadi Satu




  • Gunung Prau - Pesona Ketinggian Negeri Para Dewa







  Beberapa obyek wisata diatas hanya sebagiannya saja. Masih banyak obyek wisata menarik lainnya yang berada di kawasan komplek wisata Dieng. Anda juga bisa menyaksikan secara langsung ritual pemotongan rambut anak gimbal. Namun, ritual ini hanya dilaksanakan satu tahun sekali dalam acara Dieng Culture Festival. Dalam acara tersebut tidak hanya ada ritual pemotongan rambut anak gimbal saja, biasanya banyak acara lainnya seperti penerbangan 1000 lampion, Festival Jazz atas awan, dan lain sebagainya. 
    Jika anda berkunjung kesini, tidak puas rasanya bila belum mencicipi kuliner khas negeri para dewa tersebut. Ada mie Ongklok, Manisan Carica, Tempe Kemul dan lain sebagainya. Bagaimana ? apakah anda tertarik untuk mengunjungi lokawisata Dieng ? #100%Indonesia