Rabu, 30 Januari 2019

FILOSOFI LAGU UNTUK PEREMPUAN YANG SEDANG DALAM PELUKAN

Semua lagu itu enak asalkan sesuai mood. Bagi gua, band lokal yang enak menemani ketika ngetik, bersih-bersih rumah, bikin prakarya, atau apalah itu, lagi galau, dan juga enak ditonton konsernya bareng-bareng sama teman-teman mungkin Sheila On 7 dan Naif.

Kalau posisi lagi ngopi di warkop pinggir jalan, atau ngopi di terminal/stasiun, belanja di pasar tradisional, atau lagi nongkrong di pos ronda sama bapak-bapak, yang enak didengar mungkin lagunya Rhoma Irama, Panbers, Ratih Purwasih, D'lloyd, Koes Plus, & lagu lawas lainnya.

Tapi kalau lagi menyepi, lagu yang pas buat nemenin ngopi/ngeteh mungkin seperti Payung Teduh, Mocca, White Shoes & The Couples Company, Angsa & Serigala, Fourtwnty, Banda Neira, dsb.

Beberapa tahun terakhir, kalau lagi sendiri paling sering mengulang lagu 'Untuk Perempuan Yang Sedang Dalam Pelukan-nya Payung Teduh', dibikin penasaran dan bertanya-tanya, "Apa sih sebenarnya makna dari lirik lagu ini ? Untuk siapa lagu ini diciptakan ? Untuk ibunya ? Istrinya ? Dan/atau anaknya ?"

"Apakah seperti lagu Don't Look Back In Anger-nya Oasis ? Seperti apa yang telah dikatakan oleh Noel Callagher bahwa tiap liriknya tidak berkaitan satu sama lain, dan beberapa dibuat tak ada makna, walaupun demikian, tetap diminati banyak orang, terbukti ketika single ini liris pada 19 Februari 1996 langsung berhasil menduduki peringkat pertama 'The 50 Most Explosive Choruses by NME' dan menjadi hymne solidaritas anti teror kota Manchester dan London beberapa waktu lalu.

"Apakah seperti lagu You Make My World So Colorful-nya Daniel Sahuleka ? Yang menjelaskan kebahagiaan di tiap baitnya, terinspirasi ketika dia melihat cahaya mentari pagi yang menyinari wajah Alice, istrinya ('Morning sunshine in our room')."

"Atau, apakah seperti lagu Tears in Heaven-nya Eric Clapton ? Yang menjelaskan kesedihan sebab telah kehilangan anaknya yang saat itu berusia 4 tahun terjatuh dari jendela lantai 53 Apartemen New York City pada 20 Maret 1991."

Dibikin penasaran, multitafsir, huft, tidak seperti In My Life-nya The Beatles atau My Way-nya Frank Sinatra yang menjelaskan makna lagunya dari umum ke khusus.

Akhirnya rasa penasaran gua hilang ketika...
#Bersambung #PTPart1

Bagian 1 (Postingan Instagram (teddygnwnn) - 10 Desember 2017)





#PTPart2 Akhirnya rasa penasaran gua hilang ketika menyaksikan wawancara Mas Is di salah satu televisi swasta. Katanya, lagu ini adalah lagu yang paling lama proses penciptaannya. Awalnya lagu ini berjudul layangan yang terinspirasi ketika Mas Is melihat Raihan, keponakannya di Jepang.

“Pertama kali liat tuh anak ga tau kenapa gua selalu mengingat masa kecil gua kalau lagi main layangan. Seneng aja main di tanah yang lapang, maksudnya, gambaran membucahnya kegembiraan tanpa ada pemikiran apapun. Jadi lu menikmati waktu, lu menikmati segala hal dengan cara yang sangat sederhana”

Lagu ini belum selesai dibuat sampai suatu hari Mas Is mendapatkan pekerjaan, hanya menjadi intro saja. Momentum lirik per lirik lagu ‘Untuk Perempuan Yang Sedang Dalam Pelukan’ didapat ketika Mas Is pulang kerja, naik metromini-kereta di awal-awal kerja. Saat itu sedang sakit kepala, muntah, dan masuk angin. Lalu Mas Is dipijat oleh Agnes, istrinya, dalam keadaan belum sempat mandi sampai akhirnya ketiduran.

“Gua ga sempat basa-basi, ga sempet ngobrol beneran sama dia (Agnes), biasanya gua abis pulang kantor makan bareng. Kalo lagi masak makan bareng langsung atau engga nyari sate deket rumah atau gulai, tapi waktu itu ga sempet, gua ketiduran. Kebangun jam 3 kurang, setengah 3 lewatanlah. Gimana sih kalo lu kebangun dari tidur yang sangat lelap gitu gara-gara tumbang ? Perasaan gua tadi baru pulang kantor tiba-tiba kok jam segini”

Kemudian Mas Is ke kamar mandi untuk buang air kecil dan sekadar cuci muka, lalu kembali ke tempat tidur dan melihat istri serta anaknya yang sedang tertidur pulas di kamar kecil itu, di kontrakannya, di daerah Margonda. Ketika melihat situasi itu, langsung terbesit kata-kata ‘Hanya ada sedikit bintang malam ini, mungkin karena kau sedang cantik-cantiknya’.

Selanjutnya Mas Is keluar, duduk di teras sambil memainkan gitar, dan lagu itupun jadi dalam kurun waktu kurang dari satu jam.

“Mereka adalah teman yang Diutus Allah untuk menemani saya setiap hari, yang ketika lu ngeliatin sesuatu ngebuat tiba-tiba hati kita tenang, ketika ngeliatin sesuatu tiba-tiba hati kita tergugah untuk bisa lebih tekun lagi. Itu yang saya rasakan”

Lirik yang selanjutnya adalah ‘Di malam hari menuju pagi’, yang menggambarkan suasana saat itu.

Kemudian ‘Sedikit cemas banyak rindunya’, artinya kecemasan Mas Is akan kesulitan saat itu. “Besok saya bisa ngasih apa untuk mereka ? karena memang sangat susah saat itu, untuk bertahan, untuk hidup rasanya susah sekali”

“Proses yang saya jalani sama dia (Agnes) terbilang sangat mudah, apalagi setelah kehadiran Jingga, untuk perempuan yang sedang dalam pelukan kami itu, semua waktu kayaknya menjadi ringan untuk dijalani”

#SelamatUlangTahun
#MohammadIstiqamahDjamad
#SalahSatuTokohInspirasi
#GuaYakinSuatuSaatBakalanAdaBuku
#EntahItuBiografiFilosofiDanAtauSebagainya
#TerimaKasihPayungTeduh



Bagian 2 (Postingan Instagram (teddygnwnn) - 24 Januari 2018)

Kamis, 15 November 2018

EKSPEDISI TOGA DI PUCUK DEWI ANJANI (PERJALANAN GUNUNG RINJANI TAHUN 2016)


      Setelah lulus kuliah, baru hari ini saya sempat ngeblog lagi. Ini adalah cerita saya semasa sesaat setelah wisuda dulu. Perjalanan keliling Lombok dengan tujuan utama Gunung Rinjani. Saya ingin berbagi cerita tentang perjalanan saya yang dimulai dari kota rantau tercinta, Purwokerto.







COMING SOON!!!








        Ini foto saya di puncak Gunung Rinjani dengan ketinggian 3.726 mdpl, difotoin oleh Vilis Brukas, Pendaki Asal Lithuania.






Ini file yang saya ulpoad dalam bentuk pdf
https://drive.google.com/file/d/1F54-kNlvT3MJ4-TfeR8Hq9ts1UlxwUxf/view

Sabtu, 12 Desember 2015

TOGA DI PUCUK DEWI ANJANI



By: Muhammad Teddy Gunawan 

              Purwokerto, 13 Februari 2003


            Rara……
Sirna sudah anganku untuk meminangmu
Ku kira, semesta akan melapangkan jalanku dan menguatkan hatimu
Tapi ? Ah sudahlah….
            Andai waktu dapat diputar, andai waktu dapat dibekukan
            Aku pasti akan membekukan sedetik bersamamu untuk selamanya
            Namun, hidup ini cair…
Kini….
Kau telah bahagia dengan pengusaha kebun sawit itu
Sedangkan diriku, masih bergelut dengan tumpukan revisi
Dua tahun sudah aku tersakiti oleh sistem pendidikan ini
Entah karena sistemkah atau memang akulah yang bodoh
Janjiku tuk melamarmu di hari ini pupus sudah….
Berbahagialah, mimpimu menikah muda tercapai sudah

Kutarik napasku dalam-dalam, lalu kukeluarkan secara perlahan. Aku terdiam. Aku hanya bisa menelan ludah. Keningku mengkerut, air mataku jatuh tak terbendung membasahi secarik kertas ini. Ini adalah surat yang ditulis oleh sahabatku sendiri, Bram.
Aku tak tahu sehancur apa rasanya. Kekasih yang selalu menemaninya sedari duduk di bangku putih abu dulu, kini telah bahagia bersama lelaki asal Sumatera itu. Sebulan setelah putus dengan Rara, Bram semakin diruwetkan dengan undangan pernikahan yang dikirimkan Rara ke alamat kost Bram. Tak ayal kamar kostnya yang hanya berukuran 3 x 2,5 meter itu semakin berantakan dengan kertas-kertas skripsi yang bertebaran di setiap sudut kamar.
Aku tahu benar bagaimana Bram di kampus. Menurutku, Bram mahasiswa yang cerdas. Ia aktif di berbagai organisasi baik di dalam maupun di luar kampus. Kesibukannya tak mengganggu nilai kuliahnya sama sekali, bahkan, disaat aku masih bergelut dengan beberapa mata kuliah yang masih kuulang, Bram sudah selangkah lebih maju dengan kesibukannya bersama tugas akhir.
Semuanya sudah berlalu, sekarang aku sudah berdiri tegak mengenakan toga di puncak Gunung Rinjani ini, mimpiku semasa kuliah tercapai, tapi tidak untuk Bram. Padahal, ini adalah rencana yang aku buat bersama Bram semasa berpredikat sebagai mahasiswa baru dulu. Bram tersendat di penelitiannya. Katanya, dosen pembimbingnya seakan mempersulit dirinya untuk menyelesaikan strata sarjana. Entah karena masalah pribadi atau apapun itu, aku tak tahu.
Kutatap di sekelilingku. Ada bunga sandar nyawa yang menyejukkan mata. Ada dinding-dinding kaldera yang megah. Ada lautan awan yang menguning akibat pancaran sinar mentari. Ada pula Segara Anak yang begitu menakjubkan. Semuanya cukup menenangkanku, meski tak banyak. Namun, mataku hanya tertuju pada seonggok rerumputan liar di kiri kakiku. Rumput gunung itu seolah-olah ingin mengajakku bercengkrama. Halusinasiku memuncak.
“Apa yang kau tangisi kawan ?”
“Aku benar-benar merasa kehilangan sahabatku. Pikiranku mendadak kelam, aku tak tahu harus berbuat apa. Andaikan engkau merasakan apa yang aku rasakan saat ini,  kurasa warna hijaumu akan menguning dan membusuk di puncak ini”
“Sudahlah, hidup tak selamanya kekal kawan, meskipun dirimu dan dirinya seperti garis silang yang memberikan sesaat pertemuan lalu menghilang, setidaknya banyak pelajaran manis yang kau dapat darinya”
“Mudah memang jika hanya sekedar berucap….”
“Aku pernah sepertimu, sahabatku telah mati kering di puncak ini, terinjak kaki-kaki pendaki. Sama halnya dengan bunga sandar nyawa itu, hanya namanya saja bunga abadi, tapi tidak untuk raganya. Pendaki-pendaki egois memetiknya. Jangan terlalu berlarut dalam kesedihanmu kawan, ditinggalkan ataupun meninggalkan adalah siklus hidup yang sudah pasti terjadi”
            Embun di helai-helai daun rumput liar itu setetes demi setetes jatuh membasahi tanah. Seolah-olah ikut merasakan kesedihanku. Aku hanya bisa tersenyum kecil sembari mengepal kedua telapak tanganku, lalu kutempelkan di bawah dagu. Entah apa yang ada dibenakku, seolah-olah aku merasakan kalau rumput itu membalas semua curahanku. Ini gila!
            Waktu begitu cepat berlalu. Masih terngiang di kepalaku dengan kejadian dua minggu yang lalu, tepat satu semester setelah kelulusanku. Bram ditemukan sudah tak bernyawa di kamar kostnya. Kematian memang suatu hal yang wajar meski caranya yang tak wajar. Sungguh mengenaskan, lehernya terikat tambang kuning yang digantungkan di langit-langit kamar. Tubuhnya tergantung kaku dengan baju warna merah  yang ia kenakan. Di bagian depan bajunya disablon putih, bertuliskan “I’ll wait for your propose, Bram” dengan latar gambar siluet sepasang kekasih. Aku tahu betul, itu adalah baju pemberian Rara saat ulang tahunnya yang  ke 21. Aku tak pernah menyangka cinta benar-benar membutakan pikiran Bram.
            Tak ada gunanya lagi mengungkit bayangan kelam di masa lalu. Semua orang pasti mempunyai masalahnya masing-masing. Takdir memang di tangan Tuhan, tapi manusialah yang menentukan. Meski pendidikan bisa didapatkan dimanapun, selagi berpangkat sebagai mahasiwa, menyelesaikan akademis adalah suatu kewajiban yang harus dikerjakan. Setiap mahasiswa mempunyai versi terbaik untuk menyelesaikannya, meski tak sama. Tapi, apakah semua mahasiswa memiliki isi kepala yang sama ? Tentu tidak. Ya! Tidak semua orang mampu beradaptasi di bidang akademisnya dengan baik. Ah sudahlah….Aku hanya berharap semoga tidak ada Bram Bram yang lainnya.
            Toga di pucuk Dewi Anjani. Bram, ekspedisi kita telah usai, meski tak bersama, ekspedisi ini kupersembahkan untukmu. Surat yang tak sengaja kutemukan terselip di tas gunungku ini pasti akan kujaga selalu, Bram. Semoga surga menantimu.
*****


Senin, 25 Mei 2015

Catatan Akuntansi B 2012

     Catatan Akuntansi B 2012, mungkin kalimat yang tepat untuk menggambarkan kisah tentang gua dan mereka. Begitu banyak catatan perjalanan yang telah kami lalui, dimulai dari ospek hingga menginjak predikat sebagai mahasiswa tingkat 5. Sebenarnya sih ini adalah kisah tahun lalu, 29 November 2014 tapi ya baru sekarang sempat ngeblog lagi.

      Semuanya bermula saat gua dan Awang (teman sekelas) lagi nongkrong di basecamp AktB12. Ya begitulah, anak-anak kelas biasa menjadikan kamar gua sebagai basecamp untuk sekedar nonton, main pes ataupun istirahat. 

 "Wang kenapa kita ga buat sesuatu yang bisa bikin anak-anak kelas makin akrab lagi satu sama lain"
"Sama Ted, aku juga kepikiran kayak gitu, biar setelah lulus nanti silaturahmi kita tetep terjaga"
"Yaelah gaya bet, tapi emang bener banget wang, satu momen untuk selamanya. Mungkin acara bakar-bakaran ? Ke pantai ? Atau mungkin bikin makrab lagi aja tapi khusus kelas kita doang ?"
"Mungkin makrab kelas...."
"Bla...bla bla"

   Setelah berhari-hari ngebacot akhirnya kita sepakat untuk membuat acara malam keakraban. Gua tau, kalo cuma sekedar share tentang ide pasti respon anak-anak kelas ya cuma gitu-gitu aja, ibarat naro orang-orangan sawah di tengah lautan lepas, ga ada gunanya yang berujung wacana belaka hahaha *peace guys*. Gua dan Awang sepakat untuk berbagi tempat survey, gua survey villa yang ada di kawasan Baturraden dan Awang survey di sekitaran Purbalingga. Gua emang udah ngincer Villa Kebun Jambu-nya mas Tete yang pernah dijadiin tempat nongkrong-nongkrong unyu teman-teman perhimpunan gua, tapi sayang udah full booked untuk satu setengah bulan kedepan. Yaudah akhirnya gua, coba ke Villa yang pernah dijadiin tempat reuni akbar perhimpunan. Lagi lagi, gua harus angkat tangan, harganya bikin sesak napas!!!

      Keesokan harinya, gua saling share informasi dan dokumentasi dengan Awang. Ternyata Awang dapet satu rekomendasi. Hmmm leh uga.
      
       14 Oktober 2014, kita langsung start untuk survey pertama menuju Serang, Purbalingga. 

"Eh maaf bu saya mau liat-liat villanya bisa ? "
"Oh monggo silahkan mas, tapi paling cuma bisa lihat-lihat dari luar sama di garasi soale kuncinya hilang waktu dipinjam sama mahasiswa KKN"
"Waduhh, engga ada kunci cadangannya ya bu ? "
"Iya ada sama yang punya, saya disini cuma jaga mas. Kalo mau rumahnya ada disana bla.bla..bla.

     Gua dan Awang langsung tancap gas ke rumah yang dituju, lagi dan lagi ada hambatan.

"Maaf mas, bapaknya lagi keluar mungkin rada sorean pulang" 

     Sambil menunggu, gua dan Awang memutuskan untuk berhenti di warung kopi untuk sekedar ngemil gorengan dan istirahat.

"Bu kopinya dua, oh iya villa di sekitar sini bla...bla bla..", tanya Awang pada penjaga kedai kopi.

"Oh gini mas..bla..bla.."

     Gua ga terlalu menyimak apa aja yang merekan obrolin, gua sibuk melihat-lihat hasil jepretan villa tadi walaupun cuma di bagian luar dan garasi. 

"Mungkin besok lagi deh kita kesini wang, udah mendung juga nih ga bawa jas hujan"

       Di perjalanan menuju Purwokerto....
    
 "Wang kayaknya bensinnya mau abis deh"
"Engga Ted selow aja, ini cuma karbulatornya yang dingin, pengaruh suhu. Maklumlah cuaca disini emang dingin banget"
"Oke Wang"

Lalu, tiba-tiba mesin motor mendadak mati....

"Iya Ted bener, bensinnya habis"


     Kamipun mendorong motor sampai ke bensin eceran terdekat, dan sialnya hujan turun. Gua dan Awang terpaksa berteduh sambil memakan buah strawberry segar yang dijual oleh warga sekitar. 

  

        Sabtu, 18 Oktober 2014, Gua dan Awang kembali menuju Serang, Purbalingga. "Ini nih Ted  villa yang direkomendasiin sama si ibu-ibu warung kopi kemaren", ujarnya sambil membelokan stang motor ke arah kiri. Karena mas penjaga villanya sedang mencari rumput untuk pakan ternak, kamipun dihampiri oleh seorang wanita. Yapp istrinya, Awang pun memulai obrolan dengan bahasa jawa. Setelah dari sana gua langsung posting foto-foto hasil survey ke grup line kelas. Daaaan, responnya sungguh menggembirakan men!

       Jum'at, 24 Oktober setelah ujian mata kuliah kewirausahaan (kalo ga salah). Gua, Awang, Andry, Andrew dan Nuzul berangkat menuju villa untuk menemui si penjaga villa sekaligus melakukan negosiasi harga. Kami pun jum'atan di masjid yang letaknya tidak jauh dari villa. Setelah itu, kami bertemu dan melakukan kesepakatan harga dan tanggal.



"Nanti kalo mau bakar-bakaran, bisa diluar udah ada tempanya mas. Terus kalo mas-nya mau pesan kayu bakar bisa ke saya saja"


      8 November 2014, 3 hari kepulangan dari Semeru, gua terpaksa kembali lagi ke villa tersebut untuk meminta nomor handphone penjaga villa yang hilang biar ga ada miss koordinasi sewaktu pemberangkatan dll. Memang lagi sial, handphone gua ketinggalan di Ranukumbolo!!!


        Dua minggu sebelum hari H, gua sama Awang sibuk mencari nasi rames untuk makan siang dan membooking tempat makan sebagai acara penutup malam keakraban kelas.

     
        Seminggu sebelum keberangkatan kepala rasanya mau pecah, harus cari solusi untuk bikin SOP dan video dokumenter disaat foto-foto dan video yang udah disiapkan hilang bersama handphone di surganya gunung Semeru. Seminggu sebelum keberangkatan terpaksa deh gua minjem hp anak kelas buat ngerekam video seadanya dan nyari-nyari foto-foto lucu di berbagai sosial media.


SOP minimalis

        29 November 2014, hari yang ditungu-tunggupun tiba. Gua pun berbagi tugas, Awang stay di parkiran sekretariat FEB, gua ngambil LCD, Fahmi ngambil sound system, Heka ngambil alat bakar, Yully, Putri dkk ngambil Magicom dan dibantu anak kelas lainnya membawa berbagai macam barang termasuk bakiak kayu yang dibawa menggunakan pickup (Maaf yang belum kesebut). Setelah berkumpul semua, sekitar pukul 11.00 WIB keberangkatan dimulai. 


       Sesampainya di villa, kami langsung beres-beres, istirahat, solat, makan rames dan beberapa anak cewek sibuk mengupas jagung. 








       Menurut gua, sedewasa apapun seorang lelaki, ketika kumpul bareng sahabat-sahabatnya tetap aja kelakukannya seperti anak kecil.


     Sekitar pukul 15.00, sebenarnya kami membuat video harlem shake dan joget-joget lainnya biar dibilang kekinian aja sih, tapi sayangnya gua ga tau video itu ada di siapa. Hmmm yauwislah.

        


           Sehabis maghrib, selepas solat berjamaah kami memulai acara pertama. Yap! bakar ayam, sosis, dan bakso. Kentir temen kiyeh, kencot meeen!





Ini kelakuan ketua HMJA kita nih wakakak


Tebak ini siapa ? Annabelle ? Bukaaan woy!


      Lihat! serasa di posko pengungsian ya, tapi gua seneng banget dengan suasana kebersamaannya men!!!!


         Sehabis acara makan malam, selanjutnya ada video dokumenter  Catatan Akuntansi B 2012  (silahkan klik linknya kalo mau nonton) dan acara tukar kado.




 

Walaupun udah dibikin peraturan range kado dari Rp. 5000 - Rp 10.000 tapi tetap aja ada yang ngasih lebih dari itu, yang penting ikhlas yeee.


      Setelah acara tukar kado seharusnya sih pada tidur, tapi anak-anak pada mau nonton film dan lo harus tau film yang kita tonton adalah "Orphan". Setelah nonton, kelompok dibagi menjadi 2. Anak cewek tidur di lantai atas dan anak cowok di lantai bawah sekaligus "ronda". Ada yang main PES, ada yang main kartu dan ada yang pura-pura tidur lalu buang gas belerang seperti foto dibawah ini. Walaupun udah disediain kamar, tetap aja tidur diluar jadi pilihan yang menyenangkan.




     Pagi hari, niatnya sih mau main bakiak di halaman villa tapi pagi itu hujan deras. Terpaksa deh diem di dalem sambil sarapan. Setelah hujan reda, kami foto-foto diluar villa. Ada yang ke kebun strawberry, ada juga yang foto dengan view gunung Slamet. Kebetulan puncaknya sedang tidak ada kabut.






     Pukul 11.00 WIB kamipun melakukan keberangkatan untuk kembali ke Purwokerto, sekaligus makan bersama sebagai bentuk acara penutupan malam keakraban di salah satu rumah makan di Purbalingga.



 

Ini kisah yang gua sebut  "Catatan Akuntansi B 2012"
      Terima kasih Akuntansi B 2012, kalian luar biasa. 




Sekali lagi terima kasih buat yang ngiket gua di tiang listrik bertuliskan "sedot wc" dan ngajak main perang mengkudu. Kalian emang kampret! (tap video)



     Gua sadar, gua disini merantau, dan disini pula gua belajar banyak pengalaman dari kalian. Gua ga bakalan pernah lupa sama kota satria ini. Masih ada waktu sih sebenarnya untuk saling memberikan hiburan dan liburan terbaik untuk teman kelas sebelum KKN dimulai dan menjadi pejuang skripsi. Semoga rencana selanjutnya masih bisa terealisasikan. Love You Full AktB12 #AktB12LuarBiasa #AktB12Solid
      

Minggu, 09 November 2014

PESONA DATARAN TINGGI DIENG

    Indonesia tak pernah kehabisan obyek wisata yang selalu memberikan pesona berbagai keindahan, baik alamnya maupun kebudayaannya. Salah satu dari berbagai obyek wisata yang patut dikunjungi yakni, Dataran Tinggi Dieng. Dieng merupakan desa tertinggi Pulau Jawa. Letaknya tepat di sebelah barat gunung Sindoro dan gunung Sumbing. Beberapa obyek wisata menarik bisa anda jumpai di Negeri Para Dewa ini, berikut beberapa diantaranya:

  • Candi Arjuna dan Museum Kaliasa -  Kedamaian dan Kemagisan Istana Siwa Berkepala Tiga




  • Telaga Warna - Serupa Namun Tak Sama





  •   Kawah Sikidang - Kawah Vulkanik Yang Selalu Berbisik



  •  Bukit Sikunir -  Keindahan Panorama Semesta dan Bola Cahaya Yang Sempurna





5. Dieng Plateu -  Sejarah, Legenda dan Asal Usul Menjadi Satu




  • Gunung Prau - Pesona Ketinggian Negeri Para Dewa







  Beberapa obyek wisata diatas hanya sebagiannya saja. Masih banyak obyek wisata menarik lainnya yang berada di kawasan komplek wisata Dieng. Anda juga bisa menyaksikan secara langsung ritual pemotongan rambut anak gimbal. Namun, ritual ini hanya dilaksanakan satu tahun sekali dalam acara Dieng Culture Festival. Dalam acara tersebut tidak hanya ada ritual pemotongan rambut anak gimbal saja, biasanya banyak acara lainnya seperti penerbangan 1000 lampion, Festival Jazz atas awan, dan lain sebagainya. 
    Jika anda berkunjung kesini, tidak puas rasanya bila belum mencicipi kuliner khas negeri para dewa tersebut. Ada mie Ongklok, Manisan Carica, Tempe Kemul dan lain sebagainya. Bagaimana ? apakah anda tertarik untuk mengunjungi lokawisata Dieng ? #100%Indonesia

Kamis, 06 November 2014

EKSPEDISI 4S

  Ini adalah pengalaman perihal ekspedisiku selama menjadi mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Jawa Tengah, bertemu dengan teman-teman pendaki, sampai membuat tim AMPELA (Anak Mami Pecinta Alam).
   Awalnya, sama sekali tak terpikirkan olehku  untuk melirik olahraga alam bebas yang satu ini. Semenjak duduk di sekolah menengah atas,  aku sering sekali diajak teman untuk pergi mendaki gunung Pangrango yang letaknya tidak begitu jauh dari sekolahku, SMA Negeri 7 Bogor. Tapi apa mau dikata, perasaan untuk menikmati keindahan alam melalui pendakian belum begitu membuatku tertarik. Namun sekarang semuanya telah berubah, mendaki telah menjadi hobi yang paling menyenangkan bagiku, itu semua bermula dari pendakian perdanaku di salah satu gunung Jawa Tengah.

1. SLAMET 3428 MDPL, JAWA TENGAH

       
 Semuanya bermula dari ketidaktahuanku. Jum’at , 29 Maret 2013 tepat pukul 14.00 WIB setelah solat Jum’at. Aku bersama Mas Chandra (orang yang mengajakku untuk camping di kaki gunung Slamet), segera memulai perjalanan bersama anak dan istrinya beserta rekan beliau, Mas Budi. Bermodalkan tas carrier pinjaman teman, tanpa basi basi aku langsung menaiki bagian belakang pick up yang dikendarai  oleh mas Chandra sendiri. Gerimis pun turun, aku bergegas mengambil mantel batman (jas hujan) yang berada di dalam tas carrier, aku dan mas Budi pun berteduh dibalik mantel batman.  Baru sekitar 50 menit perjalanan, ban mobil bagian belakang terperosok di jembatan kayu di tengah hutan lebat kawasan Palawi, Baturraden.  Kami pun terus berusaha mengungkit ban mobil menggunakan kayu dan batu. Tak lama kemudian dari arah yang berlawanan, terlihat dua mobil melintas, sesegera mungkin kami meminta pertolongan. Setelah kurang lebih 45 menit, kami pun dapat kembali melanjutkan perjalanan menuju basecamp gunung Slamet. Tepat pukul 16.00 WIB kami tiba di basecamp pendakian gunung Slamet, Bambangan, Purbalingga, Jawa Tengah. Sambil melihat pemandangan di sekitar, aku dan yang lainnya menyantap nasi bungkus dan gorengan hangat, sesedikit pula aku meminum kopi hitam hangat.
    Setelah istirahat dirasa cukup, kami pun melanjutkan perjalanan menuju spot pendirian tenda. Dua jam sudah kami berjalan melewati perkebunan sayur milik warga dan hutan pinus, hampir menuju batas hutan belantara. “ kok udah dua jam jalan tapi ga sampe-sampe juga ya ? katanya mau camping di kaki gunungnya aja, apa jangan-jangan kita nyasar ?“, gerutuku dalam hati.  Malam semakin gelap, namun Lintang, anak perempuan mas Chandra yg masih duduk di bangku sekolah dasar itu masih terlihat begitu semangat untuk melanjutkan pendakian. Melihat gigihnya semangat Lintang, aku pun juga tak mau kalah. Kuminum seteguk air dan angkat kembali tas carrier ke pundak.
  Diujung malam, akhirnya kami menemukan lahan kosong yang pas untuk mendirikan tenda kapasitas empat orang itu. Setelah tenda berwarna oranye berdiri kokoh diketinggian ±2000 meter diatas permukaan laut, dengan cekatan istri mas Chandra memasak untuk bekal makanan kami sebelum tidur. Sementara itu, kami merapihkan dan mempersiapkan peralatan tidur seperti Sleeping bag, Matras, dan lain sebagainya.
   Dingin di malam itu, terasa menusuk-nusuk tulang, aku pun keluar tenda untuk sekedar menghangatkan diri ditemani secangkir kimcil, kopi item gelas kecil. Terdengar suara Lintang merengek di dalam tenda, wajar Lintang memang terbilang masih sangat muda. Umurnya baru sekitar 6 tahun. Hujan mulai membasahi atap-atap tenda dan memaksaku untuk kembali masuk kedalam.
    Suasana seketika sunyi senyap sesaat setelah lagu Iwan Fals yang terdengar dari ponsel mas Chandra itu mati. "Ted, kemungkinan kita ga bisa melanjutkan pendakian nih, soalnya Lintang pengen pulang ditambah kondisi cuaca yang ga memungkinkan", jelas mas Chandra. "Hmmm, tapi mas...aku belum pernah satu kali pun melihat samudera awan, aku pengen banget lihat mas" rajukku. Setelah melakukan percakapan yang cukup alot akhirnya aku diizinkan untuk berangkat seorang diri, sebenarnya mas Chandra memang tidak mengizinkan karena aku belum punya pengalaman dibidang survival terlebih lagi kondisi cuaca saat itu memang tidak memungkinkan untuk melanjutkan pendakian. Namun, melihat gigihnya semangat dan ambisiku untuk melihat puncak, akhirnya aku diizinkan.
   Pukul menunjukan 03.15 WIB, tepat sesaat hujan reda, aku mempersiapkan keperluan pribadi untuk melanjutkan perjalanan. Bermodalkan bekal secukupnya, senter dan jas hujan, aku memulai perjalanan seorang diri. Diantara kabut malam dan dingin yang menusuk tulang, terselip sedikit rasa takut. Meskipun demikian, tak sedikit pun menghalagi semangatku untuk menuju puncak. Aku hanya mengikuti jalur yang ada, ketika dihadapi persimpangan jalur, aku hanya mengikuti bekas jejak kaki pendaki lainnya. Suatu ketika, lampu senter yg menjadi satu-satunya penerangan yang kupunya mulai meredup, aku pun berlari secepat kilat sambil menyinari jalan yang berada dihadapanku dengan penerangan seadanya.
   Sinar mentari yang telah bangun dari tidurnya, mulai sedikit membantuku. Sesampai dibatas vegetasi menuju puncak, aku bertemu dengan pendaki lainnya. Lalu aku bergabung bersama mereka dan mengobrol banyak hal, mereka adalah mahasiswa jurusan sastra yang berasal dari Magelang. Bebatuan berpasir di batas vegetasi menuju puncak sungguh menyulitkan langkahku, ambisiku semakin membara ketika melihat puncak telah berada di depan mata. Dan sesampainya di puncak, mataku benar-benar terbelalak takjub melihat indahnya pesona ketinggian gunung Slamet. Terlihat jelas samudera awan berbalut tinta jingga terkena seberkas cahaya mentari terbit. "Wooy sini mas, kita ngopi-ngopi cantik!!", teriak mas Adi Kristianto, salah satu dari rombongan pendaki asal kota Magelang. "Okeeey siap mas", balasku sambil mengeluarkan makanan ringan dari dalam tas. Walaupun sudah mencapai puncak tetap terselip penyesalan, ya aku baru sadar ternyata kamera telah tertinggal di dalam tenda. "Ayo rek kita foto-foto bareng", ajak mas Hendra. Aku pun mendokumentasikan banyak gayaku ke dalam kamera digital milik mereka. "mas nanti fotonya tolong kirimin via fb atau ga twitter ya, soalnya kamera aku ketinggalan", ucapku sambil nyengir. "Oke siap tenang aja mas", jawab mereka serempak.
   Sekitar pukul 09.00, panas terik matahari langsung membuat kulitku merah seperti udang rebus. Kami pun memutuskan untuk turun. Lambat laun, karena letak pendirian tenda yang berbeda, aku dan mereka mulai berpisah. Sesampai dibawah aku kembali bertemu dengan mas Chandra, istri dan anaknya beserta rekannya, mas Budi. Setelah membersihkan diri didekat mata air, kami kembali menyantap nasi bungkus, lalu melanjutkan perjalanan untuk pulang. Hari itu sungguh membuat persaanku campur aduk tak karuan, disatu sisi aku merasa bangga, namun disisi yang lainnya aku merasa bersalah. Sesampainya di kosan, aku lansung membalas rasa lelahku dengan tidur di kasur tercinta.
   Banyak pelajaran yang aku dapatkan dari perjalanan kali ini. Dalam setiap kejadian pasti banyak hal yang tidak pantas untuk ditiru namun masih pantas untuk dikenang, hal yang tidak pantas untuk ditiru dari perjalananku kali ini adalah kerja sama tim. Aku sadar, aku begitu egois mendaki menuju puncak seorang diri tanpa memikirkan hal yang akan terjadi selanjutnya. Semoga kisah pendakian perdanaku ini bisa menjadi pelajaran untuk kita semua, bahwa puncak bukanlah segalanya, tapi kerja sama timlah yang utama.
    Beberapa bulan setelah pendakian ini, aku kembali mendaki gunung tertinggi di Jawa Tengah ini, dalam rangka pembersihan sampah di sekitar jalur pendakian dan sekedar fun camping bersama teman lainnya, namun dari beberapa kali mendaki gunung Slamet, aku hanya berhasil menggapai dua kali puncak. Puncak kedua ditemani Eko, teman kosan yang juga termotivasi karena kisahku.


2. SINDORO  3153 MDPL, JAWA TENGAH


   Sindoro, ini merupakan pendakian kedua diekspedisiku yang pertama. Semua terjadi spontan begitu saja tanpa ada perencanaan jauh-jauh hari. Sambil menyodok bola di salah satu tempat billiard & cafĂ© terkemuka di Purwokerto, Awang, sahabatku di kampus sepontan berkata, “Ted, minggu depan kita nanjak bareng yuk, aku udah lama ga naik koh”. Karena olahraga alam bebas yang satu ini telah menjadi salah satu hobiku, tanpa pikir panjang langsung saja ku balas, “Ayo siap cuk, kita ke Sindoro aja bro”. “Sip broooh”, jawabnya sambil mengacungkan jempol kanannya, tanpa sadar kalau bola putih yg disodoknya ikut masuk kedalam lubang di sudut kanan meja billiard.
   Keesokan harinya, aku, Awang, dan Andry, pergi berkeliling menyusuri malam di sekitar Purwokerto. Andry adalah teman sekelasku di jurusan Akuntansi. Selain bersama Awang, bersama Andrylah aku biasa menghabiskan waktu nongkrong di malam hari. Setelah berkeliling mencari tempat nongkrong, berhentilah kami di salah satu angkringan yang letaknya berada persis di utara Pasar Wage. Sambil menyantap mendoan, makanan khas Purwokerto, aku dan Awang kembali memulai percakapan untuk membahas pendakian selanjutnya tak lupa pula kami mengajak Andry untuk ikut bergabung. Namun, karena belum mendapatkan izin dari orang tua, Andry hanya bisa menggelengkan kepalanya.“Gua belum dapet izin cuk, nanti ajalah kalo udah dizinin” ucap Andry sembari tertawa kecil. “Yaaaah”, ucapku bersama Awang serempak. “Mas kopi hitam satu ya”, teriakku kearah pedagang angkringan malam itu.
   Malam selanjutnya, tak ada kegiatan lagi setelah menyelesaikan tugas kuliah Perpajakan 2. Sambil melihat-lihat recent updated di blackberry messanger, aku melihat update-an display picture terbaru dari Andaru Pradityo. Di foto, terlihat dia mengenakan baju yang bertuliskan “Slamet Mountain”. Dengan respon yang cepat, langsung saja jariku mengetik papan keyboard mini itu,”Ceng lu suka naik gunung juga ya ? Sabtu kita ke Sindoro yuk”. Beberapa menit kemudian Darceng membalas dengan kalimat yang memang aku harapkan,”Wah kebetulan banget gua lagi free ted, ayolah gass jadiin lah bro”. Andaru Pradityo adalah seniorku di fakultas Ekonomi, karena sama-sama berasal dari Bogor, aku cukup dekat dengan dia. Dia biasa dipanggil dengan panggilan Darceng.
   Hari-hari berlalu begitu cepat, sehari sebelum memulai perjalanan, Yusi, teman sekelasku menyarankanku untuk mengajak Wino. Karena Yusi adalah teman yang aku percaya, aku pun memutuskan mengajak Wino untuk ikut bergabung. Wino adalah mahasiswa fakultas Ekonomi yang berasal dari Padang, Sumater Barat.
    Hari yang ditunggu itu pun tiba, setelah mempersiapkan berbagai peralatan pribadi dan kelompok serta logistik, kami pun memulai perjalanan menggunakan sepeda motor menuju Wonosobo. Pagi itu, kami berhenti sejenak di rumah Awang di daerah Purbalingga untuk mem-packing ulang perlengkapan kami. Sekitar pukul 13.00 setelah dzuhur, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Wonosobo.
   Tepat pukul empat sore lebih lima belas menit, kami tiba di kawasan Perkebunan Teh Tambi, Dieng Wonosobo. Setelah bertanya-tanya kepada penduduk sekitar perkenbunan, kami pun dipersilahkan untuk menitipkan motor di rumah ketua RT setempat. Sambil menikmati waktu istirahat, aku datang menghampiri petani yang sedang mengangkut hasil panen sayur mayur ke mobil bak. “Mas aku beli sayurannya campur boleh ?”, tanyaku kepada petani itu. “Wah boleh-boleh mas, mau beli berapa ?”, Tanya petani itu. “Sepuluh ribu aja deh mas, aku mau kentang, wortel, seledri, kol sama kacang buncis”, ucapku. Aku pun kembali  sambil membawa satu plastik sayur mayur. Sambil menikmati teh hangat yang telah disuguhkan bu Wardani, istri ketua RT setempat, kami pun mengeluarkan pisau lipat untuk memotong-motong sayuran yang telah kubeli barusan. 
  Setelah waktu magrib, kami memulai pendakian. Kuangkat tas carrier dan kupasang headlamp di kepala. Kami pun menyiapkan posisi, Awang berjalan dibagian depan sebagai leader, disusul Darceng, Wino, dan terakhir aku sendiri sebagai Sweeper. Setelah berjam-jam melewati perkebunan teh, akhirnya kami menemukan hutan mati gunung Sindoro. Aku pun mulai merasa risih dengan kehadiran Wino yang teriak-teriak ketakutan sambil berlari kesana kemari merusak posisi tim. “Ted plis bangeet gue takut, dibelakang lo ada pocong aaaah”, teriaknya. Saking takutnya, Wino pun berlari kedepan mendahului Awang, lalu kembali lagi bersembunyi dibelakang Awang. “Wang itu di depan ada cewek, gua takut iihhh”, teriaknya lagi. Tanganku sudah terkepal kuat ingin memukul Wino karena tidak bisa menjaga sikap selama di gunung, untung saja aku masih bisa mengontrol emosiku sendiri. “Tenang win, santai aja, dia ga bakalan ganggu lu kok”, ujar Awang. “Iya Win tenang aja sih, tetap jaga sikap”, sambut Darceng dengan nada yang cukup tinggi.                                                                  
  Setelah Selang beberapa saat, kami pun berhenti sejenak di bawah pohon yang cukup rindang. Kami memulai mengeluarkan kompor lipat, gas dan nesting, dan memulai memasak air untuk sekedar membuat susu hangat. Sambil menikmati roti tawar dan susu hangat, kami memandang ke arah dataran tinggi Dieng, terlihat jelas warna-warni lampu menghiasi desa tertinggi di pulau Jawa itu. “Ya Allah, begitu indah ciptaanMU”, ucapku takjub.  
   Setelah melakukan perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya kami menemukan spot yang pas untuk mendirikan tenda di sekitar hutan mati. Setelah selesai mendirikan tenda kamipun istirahat, kami sengaja tidak memansang cover dan flysheet agar kami bisa melihat bintang yang bertaburan di langit malam itu, kebetulan saat itu cuaca cerah. Namun lagi-lagi Wino membuatku risih. Dia selalu berbicara apa yang dia lihat tentang hal-hal aneh. 
   Sebelum melanjutkan perjalanan, kami memasak sop, sosis dan nugget goreng agar fisik kami tetap kuat melanjutkan pendakian sampai puncak. "Ted gua jaga tenda aja dah gua ngantuk", ucap Darceng "Laaah priwe ceng ?", ucap Awang. "Udeh kagak ngapa, berangkat buru udah siang nih", balasnya lagi. Kamipun memulai perjalanan hanya bertiga, karena estimasi perjalanan dari hutan mati menuju puncak tidak tepat ditambah sebelumnya kami bangun kesiangan, kami terpaksa harus merelakan sunrise. Saat itu kami sampai sekitar pukul 07.30 pagi di puncak gunung Sindoro. "Duh Ted panas banget, gua turun duluan ya ?", ujar Wino kepadaku."Jangan Win bahaya! Ini gunung bukan gang sadar!", jawabku spontan. Namun Wino tetap nekat, benar saja, petakapun terjadi aku dan Awang kehilangan jejak Wino. "Lah, itu syal Wino wang", ucapku sambil menunjuk kearah syal yang tergantung diantara pepohonan edelweiss. Aku dan Awang terpaksa turun melalui jalur yang berbeda, hampir satu jam mencari akhirnya aku dan Awang menemukan dia di bawah pohon dengan muka yang pucat akibat kelelahan. Sesegera mungkin kuberi dia minum dan roti untuk sekadar memulihkan energinya. Setelah istirahat beberapa saat, kami kembali naik ke atas dan memutar karena jalur yang kita lalui salah. hampir satu jam setelah itu akhirnya kami sampai di tenda.
   "Woi Ted, Wang, Win", teriak Darceng dari atas. "Lu muncak ceng ?", teriakku. "Yoi meen", jawabnya sambil tertawa. Lalu aku memasak untuk makan siang sementara itu Awang dan Darceng membongkar tenda. "Ted minta airnya ya buat cuci muka, takut muka gua tumbuh jerawat",  ucap Wino sambil tertawa kecil. 
    Kami tiba kembali di kaki gunung Sindoro sekitar pukul 18.00. Setelah istirahat membersihkan diri, kami kembali menikmati teh hangat buatan bu Wardani. "Win lain kali jangan kayak gitu lagi ya, bahaya turun sendirian, jalur yang lu lewatin tadi tuh jalur air, coba kalo hujan ?", ucapku kepada Wino. "Iya Ted maaf", ucapnya sambil menunduk. Pukul 20.00 kami pamit pulang kepada ibu dan bapak RT setempat, tak lupa kami ucapkan terima kasih banyak atas kebaikan mereka. 
     Pendakian kali ini memang menyajikan banyak hal yang layak untuk diceritakan, begitu banyak hal yang pantas untuk dikenang meskipun tak pantas untuk ditiru. Pelajaran dari pendakian kali ini, kerja sama tim memang sangat dibutuhkan. Sebenarnya Wino adalah orang yang sangat baik, aku masih memaklumi Wino, karena ini memang pendakiannya yang pertama kali. Beberapa bulan setelah pendakian ini, Wino pindah dan melanjutkan studi di negeri Cina. 

3. SUMBING  3371 MDPL, JAWA TENGAH

Burjo, tempat biasa aku dan Awang nongkrong sambil mengisi perut yang kosong. "Wang, hari senin minggu depan kan ada libur tuh. Gimana kalo kita nanjak  ? berangkat Jum'at sore", ajakku. "Oke, nanti pikir-pikir dulu ya", jawabnya sambil menghisap rokok.
TO BE CONTINUED













4. SEMERU 3676 MDPL, JAWA TIMUR

 Perjalanan menuju Jawa Timur memang membutuhkan persiapan yang lumayan lama, hampir sekitar dua bulan. Awalnya aku hanya berangkat bertiga bersama teman di organisasi luar kampus namun, kesibukanlah yang memaksa kami untuk  membatalkan rencana menuju kesana. Dua minggu sebelum ujian tengah semester aku kembali membuat plan menuju kesana dengan tim lain. Dan ternyata banyak respon positif dari tim Ampela, mereka juga mempunyai hasrat untuk melakukan pendakian di gunung tertinggi di pulau Jawa itu. Ampela adalah kependekan dari "Anak Mami Pecinta Alam". Ampela sendiri terdiri dari mahasiswa Akuntansi B Unsoed angkatan 2012 yang mempunyai hobi backpacker/traveling tapi tetap mencintai maminya (hehe). Awalnya kami berangkat bertujuh, namun karena Awang dan Aldi ada kegiatan yang sama pentingnya, Akhirnya kami berangkat hanya berlima, yakni Adit, Ipang, Fahmi, Billy dan aku sendiri. 
   Setelah melakukan berbagai persiapan peralatan, logistik, fisik dan lain sebagainya, tepat pada tanggal 1 November 2014 sehari setelah ujian tengah semester para Ampela berangkat menuju Malang. Pukul 05.30 WIB kami berangkat dari stasiun Purwokerto menuju Surabaya menggunakan kereta, di Surabaya kami hanya sekedar transit sebelum melanjutkan perjalanan menuju Malang. Karena ada keterlambatan kereta, kami sampai di stasiun Gubeng Surabaya sekitar pukul 04.15 dua jam lebih lama dari jadwal yang sudah ditentukan. Kamipun melanjutkan perjalanan, tepat pukul 21.30 WIB aku dan teman-teman sampai di Kota Apel tersebut. Sesampai disana kami langsung melakukan negosiasi untuk kembali melanjutkan perjalanan menuju terminal Arjosari, namun kami tidak menemukan kesepakatan harga dengan supir angkutan umum tersebut, lalu kami berkeliling dan bertanya-tanya kepada warga sekitar perihal tempat peristirahatan terdekat dan aman. Lagi-lagi kami tidak menemukan jawaban yang tepat atas pertanyaan kami, kami memutuskan untuk beristirahat di taman Trunojoyo yang letaknya tidak terlalu jauh dari stasiun Kota Malang Baru. Baru sekedar duduk dan meluruskan kaki datang salah seorang penjaga taman, "Maaf mas kalo mau tidur di taman sebelah saja, pagarnya mau saya kunci", ucap salah seorang penjaga taman tersebut. Lalu kami pindah ke taman yang letaknya juga tidak terlalu jauh dari taman Trunojoyo. "Ted kita makan yuk ah laper nih", ajak Adit, tanpa banyak bicara aku langsung mengeluarkan nesting dan kompor lipat untuk memasak kentang goreng. Sambil menunggu kentang matang, tiba-tiba datang segerombolan anak kecil "Mas, itu apa ?", ucap salah seorang anak "Mas aku mau ya", sahut yang lainnya. "Iya aku juga mau, aku juga mau", ucap mereka. "Oke, sabar ya, bentar lagi mateng kok", ucapku dengan nada pasrah. Setelah menyantap makanan ala akadarnya, kami istirahat secara bergantian agar tetap ada yang menjaga tas carrier. 
   Jarum jam menunjukkan pukul 04.00, kami kembali melakukan negosiasi dengan supir angkutan umum lainnya. Setelah beberapa waktu melakukan negosiasi, akhirnya kami menemukan kesepakatan. Perjalanan menuju Pasar Tumpang kurang lebih sekitar 45 menit. Sesampainya disana kami istirahat dan solat di Masjid yang jaraknya tidak terlalu dari Pasar Tumpang, sekitar 200 meter. "Temenin gua ke pasar dong men buat beli logistik yg kurang", ajakku kepada para Ampela. "Ayo Ted, sama gua aja", ucap Fahmi. "Gua ngikutlah", sambut Ipang. Disaat yang bersamaan, Adit pergi membersihkan diri di kamar mandi umum terdekat, sementara Billy menjaga barang-barang kami. Setelah berkeliling mencari pembekalan untuk di gunung, akhirnya kami kembali ke rombongan dengan membawa satu plastik berisi telur, sayur-mayur, tahu, tempe dan lain sebagainya. "Bro mendingan kita nunggu jeepnya diatas aja", ajak Billy sambil menunjuk ke arah banner yang bertuliskan "Basecamp Bromo Tengger Semeru". "Ayolah gas", ucap Ipang. Setelah memasukan semua perbekalan, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Sesampainya disana, sambil menunggu jeep datang, kami membersihkan diri dan Adit menjaga barang. 
   Pukul 08.30, kami berangkat menggunakan mobil jeep bersama empat orang rombongan asal Kalimantan dan dua orang berasal dari Semarang. Namun, ketika waktu menunjukkan pukul 09.15 setelah memasuki kawasan Bromo Tengger Semeru mobil kami mogok, dan terpaksa kami harus menunggu sekitar setengah jam lebih. Sambil menunggu mobil pengganti, kami mengobrol dengan para pendaki lainnya di tepi jalan raya. Pukul 09.50, kamikembali melanjutkan perjalanan dengan mobil yang berbeda. 
   Pukul 11.00 kami tiba di basecamp Ranupani, tempat dimana pendaki gunung Semeru berkumpul sebelum melanjutkan perjalanan. Sambil membongkar ulang peralatan dan logistik, kami mengurus identitas diri dan surat-surat lainnya. Sementara itu, rombongan asal Kalimantan telah melakukan pendakian terlebih dahulu. Pukul 13.30, setelah mem-packing ulang semua peralatan dan logistik dan setelah istirahat dirasa cukup, kami melakukan doa bersama dan memulai pendakian. Setelah beberapa jam mendaki, aku dan yang lainnya dikagetkan dengan kobaran api di sekitar Landengan Dowo dan Watu Rejeng. Namun, kami masih bisa melewatinya, lalu kami kembali mengatur posisi. Seperti biasa, orang yang paling depan sebagai leader dan yang paling belakang sebagai sweeper. Ketika leader ataupun sweeper lelah, yang lain bertukar secara bergantian.
    Sore hari menjelang maghrib, kami tiba di surganya gunung Semeru, ya! Ranu Kumbolo. Cuaca hari itu memang sangat tidak bersahabat, baru saja ingin memulai mendirikan tenda, tali frame tenda kami putus diterjang badai pasir. Setelah memutar otak akhirnya aku kami bisa menyambung frame kembali dan tenda bisa berdiri. Tak lama kemudian, badai kembali datang, aku dan Adit sampai kewalahan memasang flysheet, meski akhirnya aku dan Adit berhasil memasangnya dengan menggunakan tracking pole. Karena cuaca tidak memungkinkan, kami hanya memasak kentang goreng dan membuat agar-agar yang kami masukkan kedalam botol kosong, lalu kami melanjutkan istirahat.
    Pagipun tiba, sambil meminum teh hangat yang sudah kami buat sebelumnya, kami memulai memasak sop sayur-sosis- tahu, nasi, tempe goreng. Sambil memasak, datang seorang lelaki menghampiriku. Ya dia adalah Bintang, Bintang adalah teman Awang yang juga berasal dari Purbalingga, sekarang dia bekerja di salah satu penerbangan di Tanggerang. Setelah menyantap sarapan bersama-sama. Aku dan Ampela berfoto-foto ria di Ranu Kumbolo, sementara itu Bintang dan rombongannya kembali melanjutkan pendakian menuju Kalimati.
      Setelah puas berfoto-foto, kami membongkar tenda dan kembali mem-packing barang. Lalu kami berdoa sebelum melanjutkan pendakian. Pendakianpun dimulai, tak lupa aku membawa sebotol agar-agar yang telah kami buat semalam dan telah kami rendam di air Ranu Kumbolo. Setelah melewatkan "tanjakan cinta" kami beristirahat sejenak sambil menikmati agar-agar. Setelah istirahat dirasa cukup kami kembali melakukan pendakian, namun kami dikecewakan dengan melihat oro-oro ombo yang kering kerontang tak berwarna dan sebagian lagi telah terbakar. Namun hal itu tidak memudarkan semangat kami untuk menggapai puncak Mahameru. Kekecewaan kami semakin memuncak ketika kami bertemu kembali dengan rombongan asal Kalimantan yang sedang turun di dekat Cemoro Kandang. "Hati-hati ya bro, diatas lagi ada kebakaran besar dan badai pasir", ucap salah seorang dari rombongan tersebut. Lalu kami juga mendengar kabar dari pendaki lainnya bahwa diatas ada salah seorang pendaki yang tewas tertimpa batu di batas vegetasi menuju puncak. Ya, badailah yang mengakibatkan batu-batu jatuh dan berhamburan. Setelah berjalan beberapa saat sesudah melewati Cemoro Kandang, kami memutuskan untuk istirahat sambil memasak minuman berenergi. "Bang, mending kagak usah naek dah. Apinya gede banget, ane aja ama rombongan sampe sesak napas", ucap pendaki yang baru turun dari atas. "Yaaah, yaudah dah sini bang istirahat dulu, minum-minum dululah", ajakku dengan perasaan yang campur aduk.
    Melihat situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan lagi untuk melanjutkan pendakian, akhirnya kami memutuskan untuk turun. Hawa panas siang itu sangat terasa, asap dari kebakaran hutanpun terlihat mendekati kami. Sebenarnya kami bisa menginap semalam lagi di Ranu Kumbolo sambil berharap turunnya hujan, namun logistik kami hanya cukup untuk bertahan selama tiga hari.
    Setelah maghrib, kami tiba di Ranupane. Karena jeep di malam itu sudah tidak ada, kami memutuskan untuk mendirikan tenda dan menginap semalam. Pukul 11.00, aku dan para Ampela lainnya memulai perjalanan menuju Pasar Tumpang menggunakan jeep, diperjalanan menuju jeep, kami melihat para rangers dan tim SAR yang berhasil mengevakuasi dan membawa korban dari atas gunung. Duka sangat yang sangat mendalam menyelimuti pagi itu.
    Ini merupakan pendakianku yang ke sepuluh, perjalananku bersama Ampela saat itu memang penuh suka dan duka, walaupun kami tidak berhasil sampai puncak, kami tetap bersyukur masih diberi kesehatan. Berkat keterlambatan mobil jeep, aku masih bisa menceritakan kisahku di dalam blog ini. Andaikan mobil jeep tidak mengalami masalah, mungkin ceritanya akan berbeda. Puncak memang bukanlah segalanya, sampai di rumah dengan selamat adalah yang utama. Namun, di benakku masih tersimpan hasrat menuju Mahameru, puncak tertinggi pulau Jawa. Suatu saat aku pasti kembali. Terima kasih Ampela.